Kamis, 04 Juli 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | vokasional teknologi informasi

TEKNOLOGI INFORMASI | Vokasi Swasta Bantu SMK Kembangkan Karier

Vokasi Swasta Bantu SMK Kembangkan Karier

TEKNOLOGI INFORMASI - Kalangan swasta, terutama pelaku usaha memang diinginkan membantu vokasi untuk lembaga pelatihan, laksana Balai Latihan Kerja (BLK) atau edukasi formal di SMK.

Diharapkan dengan turunnya langsung perusahaan yang membawa para berpengalaman di bidangnya ini dapat menolong sekolah dalam menyerahkan kompetensi baru. Nyatanya, tidak saja perusahaan, lembaga nonprofit yang konsentrasi pada pendidikan pun turut andil menyerahkan vokasi.

Salah satunya Markoding atau Mari Kita Coding. Yayasan yang berisi sejumlah programmer membawa misi memberdayakan kaum marjinal guna belajar coding. Amanda Simandjuntak, pendiri Markoding menjelaskan, sekarang mereka tengah konsentrasi untuk melatih di SMA dan SMK di Jakarta.

Baca Juga: Teknologi Tak Luput Jadi Sarana PSK di Tasikmalaya 


Awalnya, Markoding berdiri guna anak-anak di dekat wilayah Cilincing, Jakarta Timur. Amanda berpindah ke sekolah formal karena prihatin sebab dalam sejumlah waktu terakhir alumni SMK menjadi yang paling tidak sedikit menganggur.

Amanda menyaksikan para alumni SMK tidak memiliki kemahiran yang diperlukan dunia kerja ketika ini. Keprihatinan ini menciptakan Markoding bertekad guna berperan serta menolong memberi kemahiran teknologi informasi (TI) yang mereka punya untuk semua generasi muda.

Markoding berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah Jakarta Timur guna masuk ke sejumlah SMA dan SMK di sana. “Lagi cari model yang pas agar efektif guna pelatihan apakah dengan teknik training booth camp atau weekly sebagai ekstrakulikuler,” ungkapnya.

Markoding ini terbilang masih seumur jagung, satu tahun berdiri sehingga mereka tetap tahap proses mencetak programmer muda. Siswa yang diajar masih ruang belajar 2 SMA sampai-sampai masih satu tahun lagi masa-masa pelatihan. Diharapkan sesudah lulus mereka dapat menjadi programmer di perusahaan atau pun meneruskan edukasi di bidang serupa.

“Tahun depan telah ada kerja sama dengan sejumlah sekolah. Konsepnya, berupa training intensif sekitar dua bulan yang bakal menghasilkan alumni yang siap kerja,” sambung Amanda.

Untuk ketika ini Markoding masih konsentrasi untuk melatih di SMK 58, SMK Karya Dharma, SMA 9 dan di SMA 91 dengan 20 relawan pengajar. Para pengajar terdiri atas programmer yang memang mempunyai passion menjadi relawan cocok bidang mereka.

Satu sekolah terdiri atas dua pengajar yang jadwal melatih disesuaikan dengan waktu semua profesional tersebut. Tidak heran ruang belajar Markoding ini diselenggarakan saat akhir pekan sekitar 3-4 jam.

Amanda semakin serius guna menjadi unsur dari vokasi ke SMK. Rencananya Markoding menjadi suatu social enterprise yang mengkhususkan aksi sosial guna mengajar, tapi pun ada bisnis supaya lembaga mereka bisa terus eksis.

Amanda memiliki mimpi kelak coding dapat masuk kurikulum. “Itu masih jadi kendala supaya anak-anak ini motivasi untuk belajar. Training anda ini dapat masuk dalam nilai mereka,” ujarnya.

Saat ini masih terbatas, melulu sekitar 20-30 anak dari ratusan murid yang bisa belajar coding melewati Markoding. Diprioritaskan untuk mereka yang tidak dapat dan memang minat guna belajar coding .

Baca Juga : Ruangguru Kenalkan Brain Academy Kombinasi Teknologi dan Tatap Muka


Amanda mengakui, diperlukan motivasi besar guna belajar coding. Mereka yang benar-benar tertarik di bidang TI. Lantas sepenting apakah profesi programmer pada masa kini? Amanda menjelaskan, programmer paling berpotensi pada era digital seperti ketika ini.

“Saya punya perusahaan konsultan TI jadi tahu sekali bagaimana permintaan programmer. Saya susah sekali menggali programmer hingga harus cari ke India dan Sri Lanka,” ceritanya.

Revitalisasi SMK menjadi suatu gebrakan edukasi vokasi yang mulai digerakkan semenjak 2016. Keterlibatan dan kolaborasi dengan industri dalam menambah mutu edukasi vokasi menjadi di antara kunci dari keberhasilan program revitalisasi SMK.

Untuk itu, semua industri yang turut andil dengan menyerahkan penghargaan Industri Peduli SMK acara Rembuk Pendidikan Kejuruan SMK 2018, belum lama ini. Salah satu industri yang sukses mendapat penghargaan yaitu L’Oreal Professionnel ialah salah satu label keelokan rambut di bawah naungan PT L’Oreal Indonesia.

Perusahaan lain, yaitu Astra Honda Motor, PLN (Perusahaan Listrik Nasional), Yamaha Manufacturing, PT Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart). Penghargaan diserahkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Penghargaan ini di berikan langsung oleh Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, didampingi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy. “Edukasi ialah salah satu dari tiga pilar utama kami di samping inovasi dan inspirasi.

Tidak hanya pendidikan untuk mengembangkan keterampilan partner hairdresser . Kami tapi pun kemampuan penata rambut masa mendatang yang ketika ini bibitnya telah ada di SMK,” ujar Michael Justisoesetya, General Manager Professional Products Division L’Oreal Indonesia.

Penghargaan ini untuk L’Oreal adalahsebuah kehormatan hati yang bisa memacu mereka guna terus memberikan sokongan dan kontribusi kami terhadap edukasi vokasi, terutama di jurusan keelokan rambut supaya mampu menghasilkan lulusan-lulusan berbobot | berbobot | berkualitas yang siap berkarya di industri tata rambut di Indonesia.

Program L’Oreal Hairducation adalahsebuah program kolaborasi bareng dengan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (PSMK) dan SMK yang bertujuan untuk menyokong gerakan revitalisasi SMK dalam bidang keelokan rambut sekaligus untuk menolong pemenuhan keperluan tenaga kerja dalam industri keelokan rambut di Indonesia yang paling kurang.

L’Oreal Hairducation mempunyai empat komitmen utama, yakni penyelarasan kurikulum dan penyelenggaraan ruang belajar industri di sekolah yang mempunyai jurusan keelokan rambut.

Dukungan pelatihan dan pengembangan kompetensi guru keelokan rambut SMK serta sokongan terhadap persaingan nasional SMK dalam bidang keelokan rambut serta penerapan harga eksklusif SMK guna produk-produk L’Oreal Professionnel supaya mudah dicapai oleh sekolah.

Michael menjelaskan, L’Oreal Hairducation sudah menyerahkan pelatihan untuk 76 guru keelokan rambut dari semua Indonesia dan membuka ruang belajar industri keelokan rambut di sembilan sekolah di kota-kota besar, laksana Medan, Tangerang, Semarang, Surakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, Makassar, dan Manado.

“Kelas Industri Hairducation diselenggarakan selama lima hari masing-masing bulannya dengan sistem belajar 30% teori dan 70% praktik, dan telah dibuntuti oleh 470 murid jurusan kecantikan,” ujarnya.

Sampai Desember 2018, sejumlah 92 murid tengah menjalani program magang di salonsalon besar L’Oreal Professionnel dan selebihnya akan mengekor program magang pada Januari 2019.

“Kami bercita-cita program ini bisa terus berlangsung dengan baik melewati kolaborasi yang solid antara kami selaku pelaku industri, mitra salon kami, pemerintah, dan pun sekolah,” tuturnya.

Dia juga yakin bahwa program ini bisa mencetak lulusan-lulusan yang mempunyai kualifikasi yang selaras dengan keperluan industri sampai-sampai dapat memenuhi ribuan lapangan kegiatan di industri kami serta menjadi pengusaha salon berhasil di masa depan.

Pendidikan vokasional telah mengolah lanskap kehidupan lingkungan kerja di Jawa Timur. Tangan-tangan terampil tersebut kini menyerahkan warna yang bertolak belakang dalam pengembangan sumber daya insan (SDM) yang semakin kompetitif di dunia industri.

Sejak dini, mereka dilazimi untuk mapan dalam membuat produk yang bernilai tinggi. Mereka juga siap bersaing di lingkungan kerja dengan standar yang mumpuni. Kemampuan mereka terus ditajamkan dalam penguasaan skill eksklusif yang menjadi bekal mereka menginjak dunia kerja.

Untuk memuluskan jalan itu, keterlibatan sektor swasta menjadi pelicin keterampilan lulusan SMK. Mereka lebih siap dan mumpuni guna memenangkan persaingan.

Keterlibatan swasta dalam edukasi vokasi pun menambah angin segar. Seperti yang dilaksanakan PT HM Sampoerna melewati program link and match SMK dengan industri. Mereka dapat memberikan akses yang lebih luas untuk para murid untuk magang.

Begitu pula semua pendidik di SMK yang juga dapat melakukan magang di perusahaan. Di samping itu, program ini pun memberikan sokongan pengajaran dari perusahaan maupun pabrik ke tiap SMK melewati silver expert sebagai pengajar.

Cara ini tentu dapat menambah daya balap serta kemampuan yang dapat diperoleh semua siswa. Sasaran program link and match pun menyiapkan 1 juta tenaga kerja industri yang bersertifikasi pada 2019.

Dengan adanya alumni SMK yang berstandar tinggi, maka potensi guna memenangkan kompetisi di kancah global dapat dilakukan. Kepala SMKN 5 Surabaya Rinoto menuturkan, edukasi vokasional memang memberikan harapan baru untuk masyarakat untuk dapat memenangkan persaingan.

Para muridnya saja memungut lompatan berani untuk membuat sendiri sepeda listrik serta drone . Mereka terus berkreasi dengan sekian banyak  teknologi serta kemampuan yang mengasah keterampilan terpendamnya sekitar ini.

“Ada satu kontainer bahan baku untuk menciptakan sepeda listrik dan drone telah datang di sekolah,” ujar Rinoto, Sabtu (8/12). Dia melanjutkan, semua siswa SMK pun dibekali keterampilan untuk memperbaiki mesin kendaraan bermotor.

Bergulat dengan rumitnya kabel kelistrikan serta mesti mengejar solusi dalam menghadapi mesin yang bobrok. Kemampuannya terus diasah. Mereka disiapkan guna menjadi alumni produktif yang dapat langsung kerja.

“Kalau tak punya keterampilan lebih, kami seluruh akan kalah berlomba dengan tenaga luar negeri,” ucapnya. Dia juga mengakui, lapangan kegiatan sekarang memang terbatas.

Tingginya angka pencari kerja meningkatkan derita tidak sedikit lulusan sekolah yang kesudahannya jadi pengangguran. Dia enggan peserta didiknya merasakan nasib yang sama. Terjerembab dalam pusaran pengangguran tanpa kemampuan.

KULIAH LULUS LANGSUNG KERJA

ki-sari-teknologi


“Kebetulan di SMKN 5 sekolahnya hingga empat tahun. Kami mempunyai waktu magang sangat lama yaitu setahun, itulah yang dimanfaatkan oleh semua siswa guna menempa diri di lingkungan kerja yang nyata,” ucapnya.

Gubernur Jatim Soekarwo menuturkan, pihaknya hendak menciptakan tenaga kerja baru yang produktif sebagai implementasi edukasi vokasi di Jawa Timur. Bahkan, pihaknya pun menyasar pondok pesantren sebab santri seringkali mempunyai etika yang baik.

Namun, semua santri tersebut minim keterampilan. Adanya suntikan kemampuan ini yang menjadi poin utamanya. “Selama ini perusahaan memang butuh kompetensi dan jati diri yang bagus,” ucapnya.

Pakde Karwo, panggilan akrabnya melanjutkan, di Jatim pun mempunyai SMK Mini yang didukung dengan kerja sama pihak ketiga guna standardisasi produknya dan ditindaklanjuti dengan kerja sama industri.

Dengan adanya partner dengan industri menjadi upaya pemerintah guna memutus mata rantai pengangguran di Jatim. Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim Saiful Rachman menjelaskan, pihaknya optimistis dengan perkembangan edukasi vokasi di masyarakat. “Kami nanti bakal mengembangkan lebih tidak sedikit SMK Mini,” jelasnya. (Ananda Nararya/Aan Haryono)


Baca Juga : Mahasiswa Ilkom USM Rangsang Generasi Muda Ekspresikan Diri

0 komentar:

Posting Komentar