Rabu, 03 Juli 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | teknologi informasi zaman kuno

TEKNOLOGI INFORMASI | Mencari Hikmah dan Kebenaran Sejati di Era Sains Modern

Mencari Hikmah dan Kebenaran Sejati di Era Sains Modern


TEKNOLOGI INFORMASI - DALAM kehidupan ini, tidak sedikit hal yang sebetulnya belum diungkap. Ilmu sains yang spektakuler ini masih saja terdapat bagian alam yang tidak dapat dihitung pasti. Anasir-anasir sains memang paling hebat. Mampu menghantarkan insan sampai titik ini. Zaman Modern. Bagaimana tidak? bangunan dapat kita lihat menjulang tinggi dan teknologi digital zaman ini bukankah luar biasa?

Namun sains dan teknologi memang memberi manfaat, tetapi di sisi beda ternyata pun memberikan akibat negatif pada kehancuran lingkungan, pemanasan global, dan krisis masalah sosial-ekonomi-politik. Adapun dalam masyarakat sains dan diri manusia-manusia canggih ala Barat, di dalamnya merasakan kekeringan spiritual. Gersang. Tandus dan gerah. Sehingga, hikmah dan kebahagiaan sejatinya sudah menyublimtertelan tragedi.

Pun, kebenaran rahasia alam yang dikandung di dalam sains ialah kebenaran sementara. Bukan kebenaran yang sifatnya mutlak dan sejati. Artinya, ia sah-sah saja bila nantimengalami pergeseran paradigma saat ada penemuan beda yang kebenarannya dinyatakan oleh masyarakat sains.


BACA JUGA : Duh! Ekonomi Singapura Stagnan,Straits Times Dibuka Merah

Berdasarkan keterangan dari Thomas Kuhn, eksodus paradigma bakal terjadi dalam jalur yang tidak linear. Kemudian, pergeseran paradigma tersebut membuka pendekatan baru untuk mengetahui sesuatu yang beda yang dirasakan lebih benar dari yang sebelumnya. Di samping itu, kebenaran ilmiah tidak melulu melalui diputuskan kriteria objektif saja, melainkan pun dari konsensus-konsensus komunitas ilmiah.

Kebenaran sains adalahkebenaran yang dirasakan mendekati kebenaran. Karena tidak ada benang merah sains yang mutlak benar. Pasti terdapat sesuatu yang tidak dapat dipastikan. Sesuatu yang belum dapat dipastikan secara eksak contohnya adanya angka koma dibelakang konstanta-konstanta formula sains.

Kita ambil misal rumus yang paling familiar, yaitu phi (π). Rumus ini tidak sedikit ilmuwan yang memikirkan bagaimana menghitung jari-jari lingkaran. Sehingga mempunyai rumus dan pendekatan-pendekatan yang berbeda.

Pertama contohnya yang drumuskan oleh John Machin (1706), rumusnya 4arc tan (1/5) – arc tan (1/239).Di sisi lain, pada abad ke-5, berpengalaman astronomi China mengejar pendekatan yang menurutnya sangat benar hingga enam angka desimal ialah 355/113.Ada pun pada tahun 1737, Leonhard Euler, mempunyai pendekatan π-nya dari lingkaran berjari-jari kelipatan 7 ialah 22/7.

Sementara itu, ribuan tahun yang lalu,ternyata telah tercatat bahwa ilmuwan mempunyai nama Archimides dapat menghitung nilai dari formula π dengan memakai pendekatan dari suatu heksagon beraturan, yang dilipatgandakan jumlah sisinya hingga 96 sisi. Dari situ, nilai π ditemukan lebih dari 223/71tetapi tidak cukup dari 220/70atau 223/71 < π < 220/70, dan nilai pendekatan 220/70 yang disederhanakan menjadi 22/7inilah yang sangat populer.

Ada pun yang menghitungnya dengan teknik menggunakan faedah limit dalam perhitungan kalkulus. Rumus yang bisa dipakai ialah π = lim 3600/asin(a/2).Dan masih terdapat pendekatan-pendekatan beda yang tidak dapat dibahas dalam artikel pendek ini.

Adapun nilai π hingga 100 angkadesimal ialah 3.1415926535897932384626433832795028841971693993751058209749445923078164062862089986280348253421170679…

Catatan dari Wikipedia sekarang, estimasi manual π dipegang oleh William Shanks, yang menghitung 527 digit pada tahun-tahun sebelumnya 1873. Kemudian pertengahan abad ke-20, estimasi π sudah menjadi tugas komputer digital elektronik; pada November 2016, catatannya ialah 22,4 triliun digit. Pada Maret 2019 Emma Haruka Iwao, seorang karyawan Google dari Jepang yang dihitung dengan rekor dunia baru panjang 31 triliun angka dengan pertolongan layanan cloudkomputasi.

Entah, siapa lagi nanti yang menghitung angkanya, bisa jadi besar bakal terus bertambah. Jadi sebenarnya, nilai eksak dari π belum pernah bisa ditentukan.

BACA JUGA :  Biaya Sekolah Mahal, Pinjaman Online Jadi Solusi

Kekuasaan Tuhan dan Akal Manusia

Sebagai insan yang mempunyai kehidupan yang sedangkan ini (temporal life), telah sewajarnya untuk tidak jarang kali ingat terdapat Tuhan yang menciptakanseluruh jagad raya. Ini ialah tanda-tanda kebesaran-Nya. Bahwa di alam terdapat sesuatu yang tidak dapat dipecahkan oleh akal dan indra manusia.

Namun persoalannya tidak seluruh masyarakat sains mau mengetahui bahwa Tuhan terdapat dan senantiasa memantau dan menata alam. Hal ini sebab sains yang menghasilkan formula itu, didasari oleh pandangan dunia (worldview) tertentu dalam mengetahui hakikat alam ini. Dimana pandangan dunia ini nanti bakal mempengaruhi benang merah dan sikap seseorang. Jika ia memandang dunia ini dengan kacamata dualisme-sekularisme, maka ia bakal tidak menerima informasi-informasi yang datang dari agama sebab tidak empiris-ilmiah, sampai-sampai Agama dan Sains menurut keterangan dari mereka usahakan dipisah saja.

Kesimpulan tersebut didapat melewati perjalanan yang panjang. Orang-orang Barat sudah lama membicarakan dialektika metafisika dan fisikayang menautkan esensi dan hubungan kausalitas adanya Tuhan dan adanya alam. Sejak zaman Yunani Kuno hingga zaman modern. Walhasil, Peradaban Barat memilih sekular. Memisahkan yang jasmani dan metafisik. Jadi, bila membicarakan Sains, tidak boleh membicarakan agama.

Tak jemu anda kembali terangkan. Semua terjadi semenjak teosentrisme yang bergeser menjadi antroposentrisme.Hal ini jelas sebab pernyataan sekular bermunculan dari tokoh-tokoh teolog mereka sendiri. Salah satu seorang teolog agama Barat, Harvey Cox dalam bukunya yang paling terkenal ‘The Secular City’ menuliskan bahwa sains dapat berkembang dan maju, andai di dunia ini dikosongkan dari tradisi atau agama yang mengaku adanya kekuatan supernatural di dunia ini. Menurutnya, andai dunia ini dirasakan manifestasi dari kuasa supernatural, maka sains tidak bakal maju danberkembang.

Pernyataan sekular pun keluar dari pemikir besar dan berpengaruh, yaitu Emanuel Kant. Katanya pengetahuan itu ialah mungkin, tetapi metafisika ialah tidak mungkin, sebab tidak berlandaskan panca indra. Kant disini menciptakan demarkasi yang tegas bahwa agama ialah tidak ilmiah dan sains ialah imiah.

Kemudian, ideologi sekular ini kesudahannya mejadi fondasi kepada sekian banyak  disiplin ilmu dan pengetahuan. Disinilah letak ketidakmurniannya dan kenetralannya ilmu sains modern. Ia bahwasannya terpengaruh kebiasaan Barat.Hal ini menciptakan ilmu tersebut tidak sejati.

Baca:b Kritik Terhadap Sains Modern [1]

Mencari Kebenaran Sejati dengan Integrasi Ilmu

Kenapa perlu mengerjakan kajian integrasi ilmu oleh masyarakat muslim? Karena kajian integrasi ilmu merupakan akibat dari adanya pemakaian falsafah Barat yang menjadi ‘trendsetter’ dalam sistem edukasi nasional maupun internasional. Latar belakang itulah yang butuh digarisbawahi. Karena masyarakat Muslim seharusnya menggunakan sistem dan konsep pendidikannya sendiri yang khas.

Adapun dalam dialog pengembangan ilmu pengetahuan, terdapat empat tipologi hubungan Agama dan Sains. Pertama, ialah hubungan konflik. Contoh populernya ialah kisah Nicolas Copernicus dan Galileo Galilei yang menemukanpusat tatasurya ialah Matahari, bukan Bumi.Hal ini menciptakan agamawan di Barat ketika tersebut tidak inginkan menerimanya lantaran menyalahi dogma ajarannya. Lau, apa yang terjadi? Kedua ilmuwan tersebut dihukum dan disiksa. Diinquisisi.

Kedua, ialah relasi independensi. Disini terjadi otonomi setiap dari pihak Agamawan dan kaum intelektual di Barat. Sendiri-sendiri, tidak inginkan saling mengurusi lagi. Sama-sama di anggap saling memberi kerugian dari kedua belah pihak.

Ketiga, ialah relasi dialogis. Dalam hubungan ini, agama dan sins mulai saling membuka hati. Mencari unsur agama dan unsur sains yang memiliki keserupaan untuk didialogkan bareng untuk menyusun hal yang konstruktif dan bahkan dapat saling mendukung.

Keempat, ialah relasi integrasi.Tipe hubungan integrase ini lebih membina dari pada tipe ketiga. Hubungan berikut yang butuh digalakkan. Terutama umat Islam yang dalam sejarahnya tidak mempunyai sejarah yang sama dengan hubungan agama dan sains di Barat.

Adapun sains dan ilmu pengetahuan Barat, memang anda kritik, tetapi bukan berarti Islam anti seluruh yang dari Barat.Peradaban Islam sudah terbukti dalam pencapaian kemegahannya pada abad keemasannyamampu membina peradaban melewati Ilmu dari kemajuan Yunani yang sempat hilang, dicatat dan diserap ke dalam Peradaban Islam oleh semua Ulama. Ilmu dari Ulama Muslim itulah yang dipungut Barat sampai-sampai mereka bangkit dan merasakan renaissance dari zaman kegelapan hingga zaman canggih sekarang ini.

Dalam integrasi ilmu, bakal ditemukan bahwa sains canggih dan doktrin agama dari al-Qur’an dan as-Sunnah sama-sama dirasakan mempunyai pandangan dunia yang saling berhubungan. Dan doktrin Agama yang berpusat pada sistem Tauhid, dijadikan basis sains dan ilmu pengetahuan tanpa mesti memisahkannya.Dalam diskusi filsafat ilmu di ruang epistemologi, al-Qur’an dan as-Sunnah dinamakan sebagai ‘Khabar Ṣādiq’ (berita yang benar) dan di antara sumber ilmu pengetahuan yang sah.

Jadi perlu guna adil dalam ilmu pengetahuan. Ilmu mengenal Allah ialah ilmu yang sangat utama dan sangat tinggi untuk seorang Muslim dari teknik pandang Islam (Islamic Worldview). Logika sederhana, tidak barangkali Ssains yang adalahkebenaran yang kebenarannya hasil dari konsensus kebenaran yang disepakati dan mempunyai sifat sementara itu,lebih tinggi nilainya dari pada kebenaran al-Qur’an.

Sains bakal diposisikan sebagai di antara ilmu urgen yang tidak terdapat pertentangan dengan doktrin Agama. Dimana insan boleh mempelajari dan memakai Sains tersebut untuk kepentingannya hidup di dunia dan yang bisa membantunya menggali bekal di akhirat. Sederhanya, al-Qur’an bukanlah buku sains, tetapi inspirasi-inpirasi sains terdapat dalam al-Quran. Jadi, al-Qur’an tersebut lebih dari sains.

Al-Qur’an mengandung konsep yang mempunyai sifat seminal. Seminal konsep ini butuh diturunkan berubah menjadi konsep. Lalu konsep itu dipakai untuk mengembangkan sains dan teknologi. Bersamaan tersebut juga, teknologi yang bakal dicipta dijaga dengan kerangka Maqāṣid al-Syarī’ah dan tradisi intelektual Islam semua ulama Salaf.

Begitulah ulasan secara umum bagaimana mengintegrasikan sains dan agama. Dari sinilah bakal terbentuk kebenaran sains yang tidak sekular dan tetap dalam lajur satu kebenaran sejati. Kemajuan bakal lebih bermakna dan hikmah bakal tetap menyala di hati.Wallahu’alam.

BACA JUGA : Sempurnakan Implementasi 5G, Ericcson Perkenalkan Standalone NR Software

0 komentar:

Posting Komentar