Selasa, 02 Juli 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | teknologi informasi youthmanual

TEKNOLOGI INFORMASI |  Pembobolan Data Pelanggan Digital Jadi Bom Waktu

Soft robots, robot 'squishy' milik NASA yang sedang dikembangkan untuk jelajahi planet lain. Sumber: Geek

ROBOPARK INDONESIA - NASA Ciptakan Robot Lunak guna Jelajahi Planet Lain

Robot tidak selamanya berwujud kaku dan berbahan baja.
Ambil misal seperti robot yang baru-baru ini dikembangkan dua anak magang NASA, Chuck Sullivan dan Jack Fitzpatrick, yang menyinggung robot ciptaan mereka sebagai soft robots.
Soft robots atau robot lunak akan digunakan guna menjelajahi planet lain tergolong bulan.
Keuntungan dari adanya robot empuk ini ialah fleksibilitasnya, di mana dalam sejumlah kasus, robot bermaterial baja kadang susah beradaptasi di lingkungan yang dituju.
Bahkan, dapat dibilang robot ini serupa seperti squishy, mainan penghilang stress berbahan empuk dan lentur.
Robot empuk ini bergerak nyaris sama laksana organisme pada umumnya, sampai-sampai lebih mudah mencapai tempat-tempat tertentu, laksana yang dikutip Tekno Liputan6.com dari Space.

Sullivan dan Fitzpatrick mengawali perakitan robotnya di NASA's Langley Research Center di Hampton, Virginia.
Meski begitu, desain robot empuk ini masih dalam tahap mula pembangunan dan belum siap dilepas ke angkasa.

Namun, Sullivan dan Fitzpatrick masih berjuang mengembangkannya.

======================================================================

TEKNOLOGI INFORMASI - Terjadinya klaim bahwa data pelanggan Bukalapak telah dicopet dan dipasarkan kepada pihak ketiga memunculkan kekhawatiran akan ketenteraman data digital. Pembobolan data digital pelanggan menjadi bom waktu sebab perusahaan tidak terlatih menghadapi kebocoran data.

Ketua dan Pendiri Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Ardi Sutedja menyatakan, masalah kebocoran data menjadi bom waktu untuk perusahaan teknologi di Indonesia. Pasalnya, dia menilai ketika ini tidak tidak sedikit perusahaan rintisan yang mempublikasikan kepandaian pengelolaan data pribadi semua pelanggannya secara transparan untuk publik.

Baca juga: Bantah Dibobol Gnosticplayers, Bukalapak Himbau Pengguna Ganti Password
"Industri jasa (dagang-el) laksana ini tidak sedikit kepentingan, pelanggan, mitra bisnis, tersebut rentan sekali (mengalami kebocoran data). Dan mereka tidak terlatih guna menghadapi krisis atau isu sensitif laksana ini, " ujarnya saat dihubungi Bisnis, Senin (18/3/2019).

Dia menambahkan, perusahaan teknologi seharusnya mengetahui bahwa ketika ini data menjadi aset yang sangat penting dalam kelangsungan bisnisnya. Oleh sebab itu, dia memandang isu kebocoran data seharusnya disikapi serius sebab menyangkut reputasi dan kredibilitas perusahaan.

Baca juga: Running Text Puskesmas Diretas, Wali Kota Semarang: Orang Dalam Tak Terlibat
Menurutnya, sangkaan peretasan data pelanggan menunjukkan kekurangan sistem ketenteraman data yang dipunyai perusahaan. Hal itu dapat dominan  pada menurunnya keyakinan pelanggan maupun investor yang menanamkan modalnya dalam perusahaan tersebut.

Sebelumnya, website The Hacker News pada Senin (18/3) melaporkan, seorang peretas yang diketahui berasal dari Pakistan yang mempunyai nama Gnosticplayers menyatakan menjual data 890 juta akun pemakai yang diretas dari 32 website populer yang dipasarkan dalam tiga ronde yang berbeda.

Baca juga: Peminat SBMPTN UB Membeludak Terbanyak di Indonesia

Peretas tersebut pada tahun lalu menciptakan tiga ronde penjualan akun pemakai di website pasar gelap online mempunyai nama Dream Market, di mana ia memposting rinci 620 juta akun yang diretas dari 16 website pada ronde kesatu, 127 juta akun dari 8 website pada ronde kedua, dan 92 juta data akun dari 8 website pada ronde ketiga penjualan.

Sementara, ronde keempat dianggap memuat nyaris 27 data pemakai yang berasal dari 6 situs, di mana dua diantaranya berasal dari Indonesia yakni platform dagang-el Bukalapak dan platform edukasi dan karir Youthmanual.

Head of Corporate Communications Bukalapak Intan Wibisono mengkonfirmasi bahwa memang terdapat upaya guna meretas Bukalapak sejumlah waktu yang lalu, tetapi tidak terdapat data urgen seperti user password, keuangan atau informasi individu lainnya yang sukses didapatkan.

“Kami selalu menambah sistem ketenteraman di Bukalapak, demi meyakinkan ketenteraman dan kenyamanan semua pemakai Bukalapak, dan meyakinkan data-data urgen pemakai tidak disalahgunakan. Upaya peretasan laksana ini memang paling berpotensi terjadi di industri digital,” ujarnya.

Baca Juga : Kumpulan Prodi Soshum dan Saintek di UNY dengan Jumlah Peminat Terbanyak Jalur SBMPTN 2019

0 komentar:

Posting Komentar