Selasa, 02 Juli 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | teknologi informasi yang paling baik seperti apa

TEKNOLOGI INFORMASI | Hingga Pertengahan Tahun, Saham Teknologi Berkinerja Terbaik

ROSS


ROBOPARK INDONESIA - Robot Ambil Alih 20 Juta Pekerjaan Pada Tahun 2030

Pernah beranggapan suatu saat lingkungan kerja dikuasai oleh robot? Bisa jadi, kekhawatiran tersebut akan jadi fakta sebentar lagi.

Pasalnya, baru-baru ini ekonom mengklaim bila di tahun 2030, selama 20 juta kegiatan akan dipungut alih oleh robot.
Dilansir dari CNBC. studi teranyar dari Oxford Economics menyatakan, 11 tahun lagi bakal ada 14 juta robot yang dipekerjakan di Tiongkok.
Pada tahun 2030 nanti, lebih dari 1,5 juta kegiatan di Amerika Serikat (AS) bakal digantikan robot, sementara di negara-negara Uni Eropa selama jumlahnya 2 juta.


Ekonom menganalisa tren jangka panjang di lingkungan kerja dan menemukan kenyataan bahwa dua dasawarsa ke belakang, tingkat pemakaian robot naik sampai 2,25 juta unit.


TEKNOLOGI INFORMASI - Saham teknologi berkinerja terbaik di Wall Street sampai pertengahan tahun 2019, dengan investor bertaruh pada suku bunga yang lebih rendah, meskipun Apple dan pembuat chip sedang menghadapi turbulensi berhubungan dengan perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Hingga Pertengahan Tahun, Saham Teknologi Berkinerja Terbaik

Indeks teknologi informasi S&P 500 sudah melonjak 9 persen pada bulan Juni, bulan terkuat dalam tiga tahun, dengan rekor tertinggi pada 21 Juni, menggambarkan meningkatnya minat investor terhadap risiko, sebab mereka menjadi lebih percaya diri bahwa Bank Sentral Amerika bakal memangkas suku bunga untuk menyokong ekonomi yang melambat.

Itu pun menunjukkan bahwa mayoritas Wall Street percaya diri bahwa Presiden AS Donald Trump, yang telah mengindikasikan ketidaksukaan terhadap penurunan pasar saham, pada kesudahannya akan menuntaskan konflik perniagaan negara dengan China.


Baca Juga : Edmon Makarim, Sarjana Komputer yang Kini Menjabat Dekan FHUI

Sembari menanti bukti peradaban di bidang perdagangan, investor akan menonton pertemuan antara Trump dan Presiden China, Xi Jinping, yang direncanakan dilangsungkan dalam susunan KTT Kelompok 20 (G20) pada akhir pekan ini di Jepang.

"Risiko tak menjangkau target ialah yang terbesar. Jika percakapan perdagangan macet maka kita dapat turun lebih rendah, barangkali sangat rendah, dan sektor teknologi dapat menjadi yang sangat terpuruk," kata Randy Frederick, Wakil Presiden Perdagangan & Derivatif di Charles Schwab.

Baca Juga : Indonesia Tak Buru-buru Gelar Jaringan 5G

Investor lain menuliskan optimisme mereka mengenai saham teknologi berdasar pada ekspektasi bahwa pertumbuhan penghasilan di sektor ini akan mengalahkan sektor perekonomian lainnya selama sejumlah tahun ke depan.

"Ekspektasi kami untuk peradaban nyata berhubungan tarif di G20 lumayan rendah," kata David Carter, kepala investasi di Lenox Wealth Advisors di New York.

"Teknologi tak sekadar permainan taktis jangka pendek, dan lebih merupakan keyakinan pada potensi perkembangan jangka panjang. Tentu saja, itu diprovokasi oleh tarif dan peraturan, namun harapan perkembangan masih ada."

Seperti yang dikabarkan pada Rabu (26/6), AS bercita-cita memulai pulang perundingan perniagaan dengan China di G20, tetapi tak hendak China meminta situasi tertentu berhubungan tarif yang ketika ini dikenakan AS pada dagangan China dalam ulasan selisih perniagaan tersebut.

Trump pun telah menakut-nakuti untuk mengenakan tarif ekstra senilai US$ 325 miliar, mencakup nyaris semua impor Cina yang tersisa ke AS, tergolong produk konsumen laksana ponsel, komputer dan pakaian. Tarif itu akan dikenakan andai pertemuan Trump dengan Xi tidak menghasilkan peradaban dalam solusi keluhan AS seputar teknik Cina mengerjakan bisnis.

Seorang pejabat pemerintahan AS menuliskan kedua belah pihak bisa setuju guna tidak mengenakan tarif baru sebagai niat baik guna melanjutkan negosiasi, namun dia menuliskan tidak jelas apakah tersebut akan terjadi.

Pejabat yang tak mau dilafalkan namanya tersebut juga menyinggung AS tidak inginkan pertemuan dengan China dilaksanakan dengan pelonggaran tarif. AS, menurut keterangan dari dia, juga hendak China membalikkan perundingan laksana sebelum Negeri Tirai Bambu tersebut menarik janji-janjinya sampai perundingan selesai macet.

Baca Juga : Tokopedia Resmi Pinang Bridestory dan Parentstory

0 komentar:

Posting Komentar