Senin, 22 Juli 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | TEKNOLOGI INFORMASI APA ITU

TEKNOLOGI INFORMASI | Megap-Megap Lagi, 
Bisnis PT Pos Kembali di Ujung Tanduk?

Megap-Megap Lagi, Bisnis PT Pos Kembali di Ujung Tanduk?
TEKNOLOGI INFROMASI 


TEKNOLOGI INFORMASI - Lagi dan lagi, PT Pos Indonesia masih dalam posisi yang terpuruk. Kabar yang beredar terakhir, PT Pos disebut bakal bangkrut bahkan hingga meminjam uang melulu untuk menunaikan tunggakan gaji karyawannya saja. 

SVP Kerjasama Strategis dan Kelembagaan PT Pos, Pupung Purnama mengakui adanya pinjaman ke bank yang nota bene dipakai untuk menunaikan gaji karyawan.

Namun, ia bercita-cita kebangkrutan tidak mendekat PT Pos. "Ya bila bangkrut sih nggak lah. Mudah-mudahan nggak," kata Pupung.


"Benar anda meminjam duit ke bank, tersebut benar adanya ya, ya memang terdapat (pinjaman uang guna bayar gaji karyawan)," imbuh Pupung.

Alasannya, menurut keterangan dari Pupung ialah memang situasinya sedang menyusahkan perseroan dan memaksa mereka guna meminjam duit "Memang situasinya ya, situasinya lagi susah," ujarnya.

Sejak 2018, PT Pos memang tengah berjuang. Lini bisnis utamanya tak lagi menghasilkan sebab tergerus teknologi.

Tunda Gaji Sudah Sejak Awal Tahun

Pada mula tahun 2019, PT Pos telah menunda pembarayan gaji karyawan. 

Penundaan tersebut adalahbuntut dari aksi unjuk rasa karyawan pada pengujung Januari lalu. Imbasnya, sejumlah funding mitra perseroan juga menunda pembiayaan program-program berhubungan operasional maupun rencana transformasi perusahaan. 

"Sebagai daftar warning akan dampak tersebut sudah dikatakan dalam forum LKS (lembaga kerja sama) Bipartit guna senantiasa mengawal hubungan kerja yang harmonis sebab tanpa tersebut mitra pembiayaan Pos Indonesia bakal berpotensi menyangga pencairan pinjaman," demikian isi pengakuan tertulis PT Pos kala itu.

Merespons situasi itu, Serikat Pekerja Pos Indonesia (SPPI) juga memberi ancaman mogok kerja bila gaji tak ditunaikan sampai 16 Februari 2019. Ketua Umum SPPI Rhajaya Santosa dalam keterangannya memberi sebanyak tuntutan untuk perusahaan berhubungan penundaan pembayaran gaji. 

Tuntutan tersebut dituangkan dalam lima poin penting. Poin kesatu ialah jajaran direksi Pos Indonesia diharuskan mengembalikan duit gaji Bulan Februari 2019 dan Tantiem tahun 2017 (dan barangkali tahun 2018 juga), serta membalikkan uang eskalasi tunjangan representasi semua pejabat SPV/VP/setingkat yang telah ditingkatkan selama periode 2017-2018.

Apa yang menimpa PT Pos pun tergambar di level terbawah atau yang akrab disapa dengan sebutan Pak Pos. Yanto, bukan nama sebenarnya, menyatakan harus hidup dalam situasi pas-pasan. 

"Kasihan nasib tidak cukup lebih 28 ribu pegawai karyawan PT Pos dan keluarga. Yang lebih menyedihkan mereka yang angsuran di bank dan pinjaman yang dicukur dari gaji," katanya, , seperti dikutip detikcom. 


"Di PT Pos yang enak-enak tersebut para vice president dan senior vice president. Gaji menjangkau Rp 40 jutaan sebulan. Di bawah, rata-rata Rp 4 jutaan yang berkeringat dan banting tulang. Itu penyelenggara yang hidupnya pas-pasan," keluhnya.

2018 Dimulainya Tahun Berat

Jauh sebelum perdebatan yang mengemuka, bisnis PT Pos yang berat memang telah menjadi rahasia umum. Titik tadinya terjadi sejak menginjak periode 2000-an. Kerugian demi kerugian menjadi sesuatu yang lumrah. Transformasi bisnis berupa penganekaragaman usaha pun dilaksanakan perseroan dari ritel hingga properti.

Tahun lalu, PT Pos masih menjalani tahun yang berat. Ditemui di Kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jakarta, Senin (26/11/2018), Direktur Utama Pos Indonesia, Gilarsi W. Setijono, mengakui bahwa sepanjang 2018 ini menjadi tahun yang berat. Target laba sebesar Rp 400 miliar yang dipermaklumkan tahun ini pun dalam bahaya tak tercapai.

"Kita gak tercapai. Saat ini ya nyaris seperempatnya saja, berat aprroximate lah ya, Rp 100 miliar," ungkapnya. 

Dia menjelaskan, sekitar ini PT Pos Indonesia mempunyai tiga lini bisnis terbesar, mencakup parsel, jasa finansial dan surat. Dia menegaskan, bisnis persuratan ketika ini telah jauh menurun seiring pertumbuhan teknologi informasi.

"Jasa layanan keuangan, dengan aturan OJK [Otoritas Jasa Keuangan] akhir 2014 bahwa seluruh orang dapat jadi agennya bank, dengan agen Laku Pandai tersebut maka Pos menjadi kehilangan dominasinya," keluh Gilarsi.

Pertumbuhan signifikan yang dilangsungkan pada produk-produk sektor e-commerce sempat menjadi harapan untuk PT Pos Indonesia. Dikatakan, dalam tiga tahun terakhir e-commerce tumbuh hingga 400 %. Meski begitu, yang sangat berkontribusi terhadap pendapatan laba masih berfokus pada ekspedisi surat dan uang. 


"Jasa finansial dan surat tersebut marginnya agak lebih baik dikomparasikan parsel, sama-sama tarif sama namun yang satu angkat satu kilogram betul satu kilo, yang satu kan satu kilo dapat 20-30an, bila jasa finansial kita telah punya kantor telah dibayar, orang telah dibayar, paling melulu switching saja," urainya.

Gilarsi menambahkan Pos Indonesia memiliki jaringan yang paling luas yakni lebih dari 4.800 Kantor Pos di Indonesia, dan lebih dari 4.300 diantaranya sudah online.

0 komentar:

Posting Komentar