Selasa, 02 Juli 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | teknologi informasi yang mengarah pada sistem komputer

TEKNOLOGI INFORMASI | Edmon Makarim, Sarjana Komputer yang Kini Menjabat Dekan FHUI

Industri 4.0 (Robopark Indonesia) Harus Dibarengi Revolusi Entrepreneur

Robopark Indonesia - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengingatkan pentingnya revolusi entrepreneur di era industri 4.0. Sebab, digitalisasi dan otomatisasi berpotensi mengurangi penyerapan tenaga kerja.
"Banyak perubahan yang telah terjadi pada revolusi industri 4.0. Itu sebabnya harus dibarengi revolusi entrepreneur agar dapat membuka lapangan kerja baru," ujarnya saat membuka Talent Fest dan Bursa Kerja Nasional 2019, di JiExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat, 22 Maret 2019.
JK juga mengingatkan pentingnya sharing ekonomi di era industri 4.0. Sebab itu, ajang Job Fair tidak boleh melulu dimanfaatkan untuk mencari kerja, namun pun memperluas koneksi untuk merangkai lapangan pekerjaan baru.
"Jadi talent festival atau job fair bukan hanya untuk mencari kerja, tetapi mencari hubungan kerja," tambahnya.



Talent Fest dan Bursa Kerja Nasional 2019 yang dilaksanakan selama dua hari pada 22 - 23 Maret mengambil tema Connect Your Potentials to The Future Possibilities. Program ini menyediakan 18.148 lowongan kerja merangkum 1.242 jabatan dari 157 perusahaan, dari sekian tidak sedikit sektor. Acara ini cuma-cuma untuk semua pencari kerja.
"Diharapkan melalui program ini, talenta milenial Indonesia dapat memburu tempatnya dan memaksimalkan potensinya untuk dapat membawa Indonesia ke dunia Internasional," ujar Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, pada kesempatan yang sama.

Acara ini dibagi dalam sejumlah pekerjaan yaitu Bursa Kerja Nasional ialah pameran yang menghadirkan lowongan pekerjaan di perusahaan dan industri formal. Kemudian Talent Connect yang membuka ekosistem pencari kerja sektor non formal, merangkum Talents Mapping, Human Resource Platform, Softskill Education Platform, Jobseeker Startup dan Business Card Festival.
Lali Appreticeship Program, ialah pameran yang menunjukkan program perusahaan yang membuka peluang magang di dalam dan luar negeri.

Baca Juga : Mahasiswa Ilkom USM  Rangsang Generasi Muda Ekspresikan Diri

Di samping itu, Business Card Festival, ialah instalasi kartu nama sekian tidak sedikit talenta dengan profesi yang bertolak belakang supaya pengunjung dapat saling terkoneksi dan bertukar kartu nama, sehingga melahirkan potensi kolaborasi antar disiplin.

Terakhir, program ini juga menghadirkan workshop guna mengajar teknik menciptakan CV yang menarik, desain portofolio, dan skill berbicara dalam wawancara kerja.

"Disini pun Robopark Indonesia ikut beperan dalam dunia Industri 4.0, dan pun Robopark Indonesia pun pastinya menolong memajukan bangsa dan Negara Indonesia ini".


TEKNOLOGI INFORMASI - Lulus sebagai murid di SMA Negeri 21 Jakarta dengan jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, Edmon Makarim menyatakan tidak pernah terpikir guna kuliah di Fakultas Hukum. Fokus jurusan Edmon—begitu ia biasa disapa—adalah Fisika. Kali kesatu ia mengekor ujian masuk perguruan tinggi, Edmon ditampik di dua jurusan lokasi mendaftar.
“Saya ujian SIPENMARU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dua kali, yang kesatu nggak dapat. Kedua kalinya bisa di Fakultas Hukum, bukannya Elektro atau Fisika. Saya bingung, ini maksudnya apa?” kenang Edmon ketika diwawancarai hukumonline.
Cita-cita menjadi mahasiswa jurusan Teknik Elektro atau Ilmu Komputer di Universitas Indonesia terdampar di ujian kesatu. Tidak menyerah, Edmon bertekad mengekor ujian pada tahun berikutnya. Penantiannya dipenuhi dengan tetap mengekor kuliah jurusan Ilmu Komputer di Universitas Gunadarma.

Baca Juga : UIN Walisongo Bebaskan Biaya UKT

Di bulan Ramadhan kala itu, Edmon menyatakan ada desakan untuk menambahkan opsi baru ketika ujian kedua. Di samping memilih Teknik Elektro dan Fisika di kali kedua, Edmon memenuhi Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) sebagai opsi terakhir. “Itu hati kecil saya bilang guna pilih pun Hukum,” katanya. Jauh hari sebelum pengumuman, Edmon merasa mendapatkan tanda-tanda kuat. Usai mengemban shalat tahajud, ia menemukan semacam jawaban bakal diterima di FHUI. “Bunyi semacam jawaban bakal diterima di FH, maunya Elektro, nangis di sajadah,” Edmon menambahkan.
Akhirnya opsi takdir dijalani Edmon dengan menjadi mahasiswa FHUI angkatan 1989. “Tidak barangkali Tuhan menyerahkan takdir namun tidak terdapat manfaatnya. Tuhan tahu apa yang terbaik, kesudahannya saya jalani,” katanya. Dengan sokongan orang tua, Edmon terus melanjutkan kuliah komputer. Ia menjalani dua perkuliahan di dua tempat sekaligus; kampus FHUI di Depok dan kampus Universitas Gunadarma di Salemba, Jakarta.

Hasil gambar untuk Edmon Makarim, Sarjana Komputer yang Kini Menjabat Dekan FHUI

Edmon beranggapan untuk menghubungkan ilmu hukum dan komputer ketika itu. Konfrensi dunia di tahun 80an bertajuk jaringan komunikasi global menjadi di antara inspirasinya. Namun, pada masa tersebut justru berkembang ejekan terhadap pengembangan hukum dan teknologi.
“Di Indonesia malah dirundingkan begini, ‘kalau suatu ketika ada hukum komputer, berarti bakal ada hukum mesin cuci, terdapat hukum setrikaan’. Banyak yang melecehkan saya,” ujar Edmon berseloroh.
Ia melalui masa yang berat sebab semua orang memandang pilihannya sia-sia. Mahasiswa yang mengekor dua perkuliahan ketika itu seringkali untuk jurusan hukum dan ekonomi. “Teman Ibu saya bilang bila nanti saya stress, sebab belajar sesuatu yang bertolak belakang,” kata Edmon lagi.
Kuliah pagi sampai siang di FHUI dan dilanjutkan malam hari di Universitas Gunadarma, Edmon tetap tercebur aktif di Senat Mahasiswa FHUI. “Saya Sekretaris Hubungan Luar masa-masa Bang Fikri (mantan Ketua Ikatan Alumni FHUI-red) jadi Ketua Senat,” kenangnya.
Skripsi bertajuk hukum terhadap manajemen sistem informasi mengirimkan Edmon meretas jalan sebagai berpengalaman hukum teknologi yang masih langka di Indonesia. Tidak terdapat yang mengasumsikan bahwa kupasan tentang hukum dan teknologi menjadi tema vital di era digital ketika ini.

Baca Juga : Mau Studi di Bali? Universitas Udayana Tawarkan 46 Prodi

Edmon menuntaskan sarjana komputer bergelar ‘S.Kom’ di Universitas Gunadarma pada tahun 1993, lebih mula dari gelar ‘S.H.’ dari FHUI yang diraihnya tahun 1994. Selanjutnya gelar ‘LL.M.’ dari University of Washington School of Law, Seattle, USA didapatkannya tahun 2004 dan menjadi Doktor dari FHUI tahun 2009. Edmon terdaftar sebagai pendiri, peneliti senior, dan pernah menjabat Ketua LKHT (Lembaga Kajian Hukum Teknologi) FHUI semenjak tahun 1999 sampai saat ini.
Ketika ditanya kenapa akhirnya menjadi dosen, Edmon lagi-lagi menyatakan ada panggilan hati guna menjadi dosen. “Ada kalender yang disobek harian dengan pesan-pesan hadis di meja kamar saya, salah satunya ‘barangsiapa merintis ilmu, Tuhan akan mempermudah jalan ke Surga’,” ia mengenang. Hari-hari berikutnya ia kembali menyimak pesan-pesan hadis di kalender tersebut yang kian mendorongnya menghamba dalam dunia akademik.

Lulus sarjana komputer, Edmon mencungkil tawaran perusahaan Jepang dengan gaji 3,5 juta rupiah. Ia memilih menuntaskan sarjana hukum guna melamar sebagai dosen dengan gaji ketika itu melulu 45 ribu rupiah. “Empat separuh tahun tanpa kedudukan di UI,” katanya lagi. Kini Edmon menikmati buah manis dari sokongan orang tua dan keyakinannya untuk memungut jalan yang tidak biasa.
“Waktu saya memenuhi pilihan kuliah di Fakultas Hukum tersebut di bulan Ramadhan, nah ini terpilih jadi Dekan pun di bulan Ramadhan,” ujarnya seraya tersenyum. Berikut petikan dialog hukumonline bareng Edmon, Jumat senja di ruangannya (21/6).

Anda menuliskan akan mengembangkan kajian hukum area di FHUI, apa alasannya?

Begini, bila kita mengamati dalam mata kuliah hukum internasional nyaris di seluruh fakultas hukum se-Indonesia tentu mengajarkan konvensi internasional yang diratifikasi Indonesia. Ratifikasi tersebut kemudian diabsahkan dalam format undang-undang nasional dan diajarkan sebagai unsur mata kuliah di Indonesia. Itu pun tidak jarang terjadi perbedaan signifikan antara isi konvensi yang anda ratifikasi dengan pengaturannya saat menjadi ketentuan perundang-undangan nasional.
Masalahnya, anda tidak pernah benar-benar menyimak data hukum negara beda di lingkup internasional. Sementara tersebut mereka benar-benar mempelajari sistem hukum kita. Akhirnya anda jadi laksana terjajah. Misalnya dalam perdagangan, mereka mengetahui bagaimana hukum perniagaan kita. Nah, anda mulai dari kajian hukum area Asia Tenggara.
Berarti kajian hukum area ini guna mendukung perluasan perdagangan Indonesia di komunitas Masyarakat Ekonomi ASEAN?


Baca Juga : Kecerdasan Buatan, Pendukung Penting Layanan Digital

Mulai dari Asia Tenggara dulu, kemudian meluas ke Asia. Tapi apa iya bisnis di Indonesia tidak akan bersangkutan dengan Afrika Selatan? Kita mesti melangkah lebih maju dengan mengoleksi data-data mengenai hukum di area Asia Tenggara. Kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia guna dipelajari.
Kita sendiri telah mempunyai sistem hukum yang kaya dan kompleks, terdiri dari sistem hukum Barat, hukum syariah, dan hukum adat. Tetapi, bangsa yang besar bakal siap menghadapi sekian banyak  masalah kompleks. Indonesia butuh dan siap guna memimpin penguasaan hukum di kawasan, tidak sekedar sistem hukum sendiri. Jangan hingga ada perasaan bahwa kita terbelakang dalam pengetahuan hukum dan mereka lebih maju.
Kita mesti dapat menciptakan pengaruh, bukan terus menjadi objek ekspansi. Akhirnya, anda akan dapat membandingkan kelebihan yang dipunyai sistem hukum beda dengan kelebihan yang anda miliki. Dengan begitu bakal terlihat kelebihan kompetitif yang anda miliki guna terus dikembangkan. Jangan hingga merasa seluruh konsep hukum yang dipunyai asing, khususnya Barat, tidak jarang kali lebih baik.Program prioritas apa saja yang telah Anda siapkan guna melaksanakannya?

     Pertama, mendorong kodifikasi data hukum nasional dalam program perangkat empuk yang saya kembangkan, namanya ECLIS (E-Codification and Legal Information System). Program ini akan menolong mengumpulkan semua data dokumen hukum yang terdapat dan mempermudah dalam mengerjakan analisis sampai pengembangan. Pada saatnya, program ini juga dapat diisi dengan data-data hukum negara lain.

     Kedua, akan disusun kelompok kerja untuk mengerjakan kajian hukum kawasan. Selama ini sudah tidak sedikit dosen kuliah di luar negeri. Kita bakal kumpulkan menurut negara destinasi studi guna bersama-sama menciptakan kajian mengenai sistem hukum lokasi mereka belajar.
Bahkan bila nanti terdapat yang lanjut studi ke Afrika atau Amerika Latin juga tidak masalah. Kita dapat belajar di sana mengenai pasar apa yang tersingkap dalam sistem hukum mereka. kita tidak butuh malu guna menjadi berpengalaman hukum spesialis Venezuela atau Brazil misalnya.
Bayangkan, terdapat ratusan mahasiswa hukum FHUI dapat memilih guna melanjutkan studi ke tidak sedikit negara di dunia. Mereka bakal mempelajari sistem hukum baru yang bermanfaat untuk kepentingan nasional. Kami bakal mulai dari semua dosen FHUI yang telah belajar ke sekian banyak  negara kemudian mengoptimalkan Djokosoetono Research Center.
Saya mempunyai harapan ada tidak sedikit pengembangan dasar-dasar ilmu hukum yang filosofis dan hukum yang aplikatif. Kita bandingkan yang anda miliki dengan sekian banyak  hukum di sekian banyak  kawasan lain. Anda pun mengatakan bakal lebih mengembangkan hukum teknologi, dapat dijelaskan apa saja yang bakal dilakukan?

     FHUI bakal mengembangkan satu peminatan baru mengenai hukum dan teknologi. Mata kuliah baru mengenai hukum perlindungan data individu dan privasi bakal disediakan. Lalu mata kuliah hukum sehubungan e-government dan pelayanan publik secara elektronik pun akan disajikan. Kami pun akan menyajikan perkuliahan cybercrime dan cybersecurity. Tidak ketinggalan soal digital property dan digital transaction. Kami bakal meneruskan tradisi kepeloporan laksana yang dulu FHUI kerjakan di bidang hukum ekonomi. Seperti yang kita tahu, program kekhususan hukum ekonomi di FHUI sangat tidak sedikit peminatnya. Berbagai aspek hukum ekonomi dipelajari lebih rinci dalam sejumlah mata kuliah yang spesifik. Kali ini saya akan mengarah ke pola yang sama dalam bidang hukum dan teknologi.

Baca Juga : Bocoran Hp Terbaru Realme 2019 yang Memiliki Kamera 64 Megapiksel, Dilengkapi 'Quad Camera' 

Pengembangan hukum area dan hukum teknologi anda perlukan supaya untuk mengambil sekian banyak  peluang yang kian terbuka. Kenapa anda hanya beranggapan untuk mengelola pihak internasional yang menggali nafkah di Indonesia, bukan sebaliknya?
Saya juga bercita-cita mendapatkan sokongan dari para lulusan FHUI guna berkolaborasi. Berbagai pengetahuan dan empiris yang dipunyai selama berkarier. Saya cemas yang terjadi melulu rivalitas sesama alumni. Semangatnya mesti kolaboratif. Kata kunci yang penting ialah kooperatif, kolaboratif, dan koordinatif. Bersama-sama kita menuju depan dengan seluruh pemangku kentingan.
Apakah terdapat program lainnya laksana target penambahan peringkat FHUI di skala global? Bukan menjadi setara kampus luar negeri seperti Harvard yang mesti anda pikirkan. FHUI perlu guna menjadi rujukan nasional dalam membina karakter khas setiap sebagai kampus hukum. Kita perlu memburu kualitas khas, bukan mati-matian mengejar hitungan ranking dunia. Saya hendak membuat seluruh kampus hukum di Indonesia dapat bekerja sama dengan FHUI guna maju bersama, menikmati kebahagiaan, dan suasana mengasyikkan untuk sama-sama berkreasi.

0 komentar:

Posting Komentar