Jumat, 19 Juli 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | TEKNOLOGI INFORMASI ITU APA

TEKNOLOGI INFORMASI | Kegendutan Informasi dan Ideologisasi Hasrat

Kegendutan Informasi dan Ideologisasi Hasrat

TEKNOLOGI INFORMASI - Aku takut sebuah hari teknologi akan mendahului interaksi manusia. Dunia mempunyai generasi idiot.

Kalimat ilmuwan fisika Albert Einstein itu ada benarnya andai kita melihat fakta hari ini, di mana kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi memegang peranan yang begitu berpengaruh dalam sehari-hari kita. Hampir tiap sudut ruang hidup membutuhkan teknologi informasi. Mulai dari layanan food, fun and fashion, transportasi, konsultasi kesehatan, hukum, pendidikan, perdagangan, pasar kerja sampai layanan kencan dan biro jodoh turut hadir.

Hari ini informasi yang tak dicapai mata dan telinga bakal dapat diakses oleh jemari. Keinginan berjumpa namun diceraikan jarak dapat terselesaikan dengan kemudahan video call. kita yang sibuk dan memerlukan tanda tangan atasan bisa dimanjakan dengan tanda tangan elektronik. Bahkan kemudahan elektronik pada hari ini turut menjadi unsur dari program pemerintah dalam konsep E-Government dengan memanfaatkan teknologi informasi sebagai instrumen pelayanan publik.

Baca Juga : NTT dan ASO Usung 7 Teknologi Baru di Ajang Tour de France

Kita mendarat pada titik di mana sekian banyak  macam interaksi dan format layanan baik yang disediakan pemerintah maupun swasta berada pada jalur teknologi informasi dan komunikasi. Hal yang disebutkan Einstein pada masanya terbukti pada masa kini, bahwa teknologi mendahului interaksi manusia" dan pada hari ini informasilah yang menjejali dan mendekat kita, tidak lagi kita yang menjadi subjek aktif menggali informasi tersebut.

Dari sisi pemanfaatan pelayanan publik berbasis digital pasti dapat diapresiasi sebagai wujud positif pertumbuhan teknologi yang sekitar ini memanjakan anda dengan akses yang begitu gampang dan efisien. Namun apa jadinya bila nyaris seluruh interaksi didominasi oleh teknologi? Atau apa jadinya andai informasi begitu cepat mendekat kita (akselerasi informasi)? Dan apa jadinya andai terjadi penumpukan informasi yang tidak bermanfaat (obesitas informasi) di dalam cengkeraman kita?

Baca Juga : Kemajuan yang Pesat Pada Perkembangan Teknologi 5G

Laju informasi yang begitu cepat dan sekian banyak  macam kemudahan di dalamnya pasti sejalan dengan gairah masyarakat guna melebur di jagat virtual yang serba terkoneksi. Bahkan, tak memahami ataupun tak mempunyai akses ke dalam dunia digital pada hari ini dapat disebutkan sebagai wujud ketertinggalan seseorang di era revolusi industri 4.0. Ya, pada dasarnya hari ini dalam wujud nyata kita ialah warga negara Indonesia, tetapi dalam wujud digital kita ialah warga dunia yang tak terbatas. Teknologi informasi dapat memangkas teritorial suatu negara. Kita mendahului interaksi insan tepat pada zaman digital laksana yang diramalkan Einstein.

Oleh sebab kemungkinan guna melipat ruang dan waktu bisa diwujudkan, maka saya dan anda bisa pula mendahului batas-batas dari struktur, sifat, dan ciri khas yang seharusnya tidak dilewati. Sebagai rujukan, lihat bagaimana batas sosial antara anak-anak dan dunia dewasa lenyap dalam sugesti tontonan di media sosial. Lihat bagaimana tiap pengakuan baik berupa video maupun artikel yang dirasakan tendensius di dunia maya bakal dengan paling gampang diartikan hingga berujung kriminalisasi (hiperkriminalitas). Lihat bagaimana hoax yang beredar dapat mengaburkan tapal batas antara benar dan salah.

Julia Kristeva menyebutnya sebagai gejala abjeksi, yaitu sebuah situasi masyarakat yang terbenam dalam jurang moralitas yang sangat rendah sampai kesulitan memisahkan antara baik dan buruk, benar dan salah. Dan yang sangat fenomenal, lihat bagaimana pengaruh media sosial terhadap gerakan politik kontemporer. Aksi 212 misalnya, menjadi sejarah pengorganisasian massa berbasis pemakaian media sosial.

Hal ini memperlihatkan bagaimana sekat ruang dan masa-masa dalam pertukaran informasi pada aspek kehidupan bisa dipangkas. Thomas L. Friedman menyebutnya sebagai "dunia yang datar" (flat world). Atau istilah Yasraf Amir Piliang "dunia yang dilipat" --bagaimana masyarakat anda tak melulu berada di dunia nyata, tetapi turut melebur menjadi masyarakat maya (netizen) di dalam layar kecil kita keseharian (gadget).

Terus Berlari

Inilah fakta bagaimana anda terjebak pada situasi hiperealitas laksana yang disebutkan Jean Baudrillard, yakni kendala membedakan fakta dan angan-angan dalam arus kecepatan teknologi. Dan, berikut bagaimana kendala kita untuk meneliti kebenaran di tengah gejala penumpukan informasi yang malah sama sekali tidak bermanfaat dan menyebabkan kaburnya batasan tertentu. Bahkan, bagaimana akselerasi informasi memaksa kita guna terus berlari tanpa interupsi yang menjadikan anda sebagai objek dari informasi yang anda konsumsi seperti, yang disebutkan Jacques Lacan keperluan yang disusun melalui ideologi hasrat.

Baca Juga : Pengusaha Siap Terapkan Penggunaan Teknologi Blockchain di Indonesia

Informasi yang biasanya kita terima tanpa filter menjadi perangkat ampuh menyusun ideologi hasrat tersebut. Sadar atau tidak pembentukan ideologi hasrat bertujuan untuk menciptakan kita abai terhadap kepentingan sosial dan berlomba-lomba mengerjai diri. Mulai dari memperkaya diri, mempermewah tampilan luar, sampai pengakuan terhadap kedudukan sosial. Hingga pada kesudahannya teknologi informasi yang mendahului batasan tertentu menggiring masyarakat ke akhir sosial dengan pusat episentrum bertolak pada ideologisasi hasrat sebagai dampak dari pencapaian anda pada titik interaksi paling fanatik dengan teknologi informasi.

0 komentar:

Posting Komentar