Rabu, 17 Juli 2019

TEKNIOLOGI INFORMASI | teknologi informasi brawijaya

TEKNIOLOGI INFORMASI | Permudah Penemuan Posisi Korban Gempa Bumi dengan Alat DEOTERIONS Ciptaan Mahasiswa UB


DEOTERIONS: Alat Pendeteksi Korban Gempa

TEKNOLOGI INFORMASI - Wilayah Indonesia paling berpotensi terjadi tidak sedikit gempa bumi sebab posisinya yang sedang di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yakni Eurasia, Indoaustralia, dan Pasifik.

Gempa bumi menyebabkan konstruksi bangunan retak bahkan ambruk. Hal ini membahayakan semua pemakai bangunan dan bisa menelan korban jiwa.

Beberapa peristiwa gempa bumi di Indonesia yang sudah menelan korban jiwa antara lain, gempa Aceh (2004) menelan 168.000 korban jiwa, gempa Yogyakarta (2006) menelan 6.234 korban jiwa, dan gempa Padang (2009) menelan 1.115 korban jiwa.

Baca Juga : Gopay Ajak Kolaborasi LinkAja

Pemerintah Indonesia pun telah menerbitkan standar rancang bangun anti gempa bumi (SNI 1726:2012) pada tahun 2012. Hal ini dilaksanakan sebagai upaya meminimalisir risiko ambruknya sebuah bangunan bilamana terjadi gempa bumi.

Namun kenyataannya, masih tidak sedikit bangunan yang ambruk saat gempa terjadi. Terbukti, 84.624 bangunan bobrok berat, 44.807 bangunan bobrok sedang, dan 132.299 bangunan rusak enteng berdasar data BNPB 5 tahun terakhir. Hal ini berarti, belum terdapat jaminan untuk pemakai bangunan bakal aman saat terjadi gempa bumi.

Apabila bencana itu terjadi, pengungsian korban mesti dilaksanakan dengan cepat. Namun Kepala Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas), Marsda F.H.B Soelistyo mengatakan, tantangan dari pengungsian korban gempa di Indonesia ialah minimnya teknologi, sebenarnya dalam proses pengungsian korban, kesebelasan Search and Rescue (SAR) sangat diprovokasi oleh teknologi.

Berdasarkan latar belakang tersebut, tiga mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Brawijaya (UB) membuat sebuah instrumen kesiapsiagaan bencana mempunyai nama DEOTERIONS (Detector of Interconnected Position Points). Mereka ialah Muhammad Rikza Maulana, Satrio Wiradinata Riady Boer, dan Adin Okta Triqadafi (Fisika-FMIPA 2016).

Di bawah tuntunan dosen Zubaidah Ningsih S.Si., M. Phil, mereka menciptakan inovasi berbentuk kartu, yang bertujuan memudahkan penemuan posisi korban yang tertimbun dampak ambruknya sebuah bangunan pasca gempa bumi.

Alat ini bermanfaat memancarkan gelombang radio yang dapat diciduk receiver semua pencari korban laksana tim SAR, sampai-sampai posisi si pemakai DEOTERIONS bisa diketahui walaupun gedung dalam suasana ambruk.

Baca Juga : Global Qurban Tawarkan Kemudahan Berqurban Manfaatkan Teknologi Informasi

"Kartu ini dilengkapi dengan switch yang dapat membaca pergerakan, sehingga kesempatan hidup si pemakai bisa diprediksi. Antar kartu pun saling terhubung, sampai-sampai posisi pemakai beda dapat diketahui dari satu pemakai yang sudah ditemukan terlebih dahulu. Semua informasi itu akan diperlihatkan pada sebuah software smartphone eksklusif dalam format daftar sampai-sampai mempermudah pembacaan," beber Rikza.

Ia menyampaikan, sejalan yang disebutkan Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, seringkali tim SAR memakai alat berat dan life detector untuk penelusuran korban. Namun perangkat berat tidak dapat dipakai dalam penelusuran korban jiwa yang posisinya tidak diketahui secara pasti sebab dapat meningkatkan rusaknya organ korban yang sudah terkena puing-puing bangunan yang ambruk.

Life detector bisa bekerja bila adanya respons dari korban melewati SMS sehingga penelusuran korban tidak cukup efektif dan tepat guna mengingat situasi korban yang sedang dalam suasana darurat. Posisi korban yang tidak diketahui secara tentu pun mengakibatkan pengungsian tidak dapat dilaksanakan secara cepat.

Teknologi modern untuk memudahkan penemuan korban pun telah terdapat di luar negeri, yakni FINDER dan LIFE LOCATOR TRx. Kedua perangkat ini memiliki kelebihan yang sama yaitu dapat mendeteksi detak jantung korban yang hendak ditemukan. Namun, kedua perangkat ini belum direncanakan untuk diselenggarakan oleh pemerintah. Bahkan, teknologi yang direncanakan untuk diselenggarakan sejak 2012 juga tidak kunjung dibeli.

"Pak Sutopo menuliskan hal ini disebabkan masalah dana, untuk tersebut DEOTERIONS yang murah dan mudah diperoleh ini diinginkan dapat mewujudkan kemauan pemerintah Indonesia guna menjadi negara tangguh bencana terutama gempa bumi," pungkas Rikza.

Baca Juga : Politeknik Negeri Padang Sediakan 1.549 Kursi Mahasiswa Baru

0 komentar:

Posting Komentar