Sabtu, 01 Juni 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | teknologi informasi di era industri 4.0

TEKNOLOGI INFORMASI | Mengenal Revolusi
 Industri dari 1.0 sampai 4.0

Belakangan, biasanya kita mendengar istilah revolusi industri 4.0 di sekian banyak  kesempatan. Sebagian dari Anda barangkali sudah terdapat yang memahaminya dan ada pun yang masih bingung tentang apa tersebut industri 4.0.

TEKNOLOGI INFORMASI - Seperti dilansir dari Line Today, revolusi industri ialah perubahan besar terhadap teknik manusia dalam mengubah sumber daya dan memproduksi barang. Revolusi industri merupakan gejala yang terjadi antara 1750 – 1850. Saat itu, terjadi evolusi secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi. Perubahan itu ikut dominan  pada situasi sosial, ekonomi, dan kebiasaan di dunia.

Revolusi Industri 1.0

Revolusi Industri yang kesatu terjadi pada abad ke-18 ditandai dengan penemuan mesin uap yang dipakai untuk proses buatan barang. Saat itu, di Inggris, mesin uap dipakai sebagai perangkat tenun mekanis kesatu yang dapat menambah produktivitas industri tekstil. Peralatan kerja yang tadinya bergantung pada tenaga insan dan fauna akhirnya digantikan dengan mesin tersebut.

Di samping itu, mesin uap dipakai pada bidang transportasi. Transportasi internasional pada masa itu ialah transportasi laut yang masih memakai tenaga angin. Namun, angintidak bisa sepenuhnya diandalkan karena dapat jadi angin bertiup dari arah yangbertentangan atau bahkan tidak terdapat angin sama sekali.

BACA : Indonesia Rencanakan Kerja Sama dengan Iran Terkait Vaksin Halal

Penggunaan tenaga angin pada perangkat transportasi juga mulai berkurang sejak James Watt mengejar mesin uap yang jauh lebih tepat guna dan murah dikomparasikan mesin uap sebelumnya pada 1776. Dengan mesin uap tersebut, kapal bisa berlayar sekitar 24 jam penuh andai mesin uap tetap didukung dengan kayu dan batu bara yang cukup.

Revolusi industri memungkinkan bangsa Eropa mengirim kapal perang ke semua penjuru dunia dalam masa-masa yang jauh lebih singkat. Negara-negara imperialis di Eropa mulai menjajah kerajaan-kerajaan di Afrika dan Asia. Di samping penjajahan, terdapat akibat lain dari revolusi industri, yaitu perusakan lingkungan dampak asap mesin uap dan limbah-limbah pabrik lainnya.

Revolusi Industri 2.0

Revolusi industri 2.0 terjadi di mula abad ke-20. Revolusi industri ini ditandai dengan penemuan tenaga listrik. Tenaga otot yang saat tersebut sudah tergantikan oleh mesin uap, perlahan mulai tergantikan lagi oleh tenaga listrik. Walaupun begitu, masih adatantangan yang menghambat proses buatan di pabrik, yakni masalah transportasi.

Di akhir 1800-an, mobil mulai diproduksi secara massal. Produksi massal ini tidakkemudian membuat proses produksinya memakan masa-masa yang cepat sebab setiap mobilmesti dirakit dari mula hingga akhir di titik yang sama oleh seorang perakit mobil. Artinya, guna merakit tidak sedikit mobil, proses perakitan mesti dilaksanakan olehtidak sedikit orang yang merakit mobil dalam masa-masa yang bersamaan.

BACA : Huawei Nova 4, Smartphone Langka sebab Lubang Kamera

Revolusi terjadi dengan terciptanya "lini produksi" atau assembly line yang memakai "ban berjalan" atau conveyor belt pada 1913. Hal ini menyebabkan proses buatan berubah totalsebab untuk menuntaskan satu mobil, tidak dibutuhkan satu orang guna merakit darimula hingga akhir. Para perakit mobil diajar untuk menjadi spesialis yang mengurus satuunsur saja.

Di samping itu, semua perakit mobil telah mengerjakan pekerjaannya dengan pertolongan alat-alat yang memakai tenaga listrik yang jauh lebih gampang dan murah daripada tenaga uap.

Revolusi industri kedua ini juga dominan  pada situasi militer pada perang dunia II. Ribuan tank, pesawat, dan senjata dibuat dari pabrik-pabrik yang memakai lini buatan dan ban berjalan. Hal ini terjadi sebab adanya buatan massal (mass production). Perubahan dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri boleh dibilang menjadi komplit.

Revolusi Industri 3.0

Setelah revolusi industri kedua, insan masih berperan sangat urgen dalam proses produksi sekian banyak  macam jenis barang. Tetapi, sesudah revolusi industri yang ketiga, insan tidak lagi memegang peranan penting. Setelah revolusi ini, abad industri pelan-pelan selesai dan abad informasi dimulai.

Jika revolusi kesatu dirangsang oleh mesin uap, revolusi kedua dirangsang oleh banberlangsung dan listrik, revolusi ketiga ini dirangsang oleh mesin yang bisa bergerak dan beranggapan secara otomatis, yakni komputer dan robot.

Salah satu komputer kesatu yang dikembangkan di era perang dunia II sebagai mesin guna memecahkan kode produksi Nazi Jerman ialah komputer mempunyai nama Colossus. Komputer yang bisa diprogram itu adalahmesin raksasa sebesar ruang istirahat yang tidak mempunyai RAM dan tidak dapat menerima perintah dari insan melalui keyboard. Komputer purba tersebut melulu menerima perintah melewati pita kertas yang memerlukan daya listrik paling besar, yakni 8.500 watt.

BACA : Eksploitasi Tubuh Wanita di Era 4.0

Namun, peradaban teknologi komputer berkembang spektakuler pesat sesudah perang dunia kedua selesai. Penemuan semikonduktor, transistor, dan lantas integrated chip (IC)menciptakan ukuran komputer semakin kecil, listrik yang diperlukan semakin sedikit, serta keterampilan berhitungnya semakin canggih.

Mengecilnya ukuran menciptakan komputer dapat dipasang di mesin-mesin yang mengoperasikan lini produksi. Komputer juga mulai menggantikan tidak sedikit manusia sebagai operator dan pengendali lini produksi.

Revolusi Industri 4.0

Nah, berikut revolusi industri yang ketika ini sedang ramai diperbincangkan. Bahkan,diusung menjadi di antara topik dalam Debat Capres 2019. Industri 4.0 ialah tren di dunia industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi siber. Istilah industri 4.0 berasal dari suatu proyek dalam strategi teknologi modern Pemerintah Jerman yang mengkhususkan komputerisasi pabrik.

Pada industri 4.0, teknologi manufaktur telah masuk pada tren otomatisasi dan pertukaran data. Hal tersebut merangkum sistem siber-fisik, internet of things (IoT), cloud computing, dan cognitive computing.

Tren ini sudah mengubah tidak sedikit bidang kehidupan manusia, tergolong ekonomi, dunia kerja, bahkan gaya hidup. Singkatnya, revolusi industri 4.0 menanamkan teknologi cerdas yang bisa terhubung dengan sekian banyak  bidang kehidupan manusia.

BACA JUGA : Kemperin perkuat struktur teknologi digital guna capai revolusi industri 4.0

Banyak urusan yang tak terpikirkan sebelumnya, tiba-tiba hadir dan menjadi inovasi baru, serta membuka lahan bisnis yang paling besar. Contoh terdekatnya, timbulnya transportasi dengan sistem ride-sharing laksana Go-Jek dan Grab. Kehadiran revolusi industri 4.0 memang menghadirkan usaha baru, lapangan kerja baru, dan profesi baru yang tak terpikirkan sebelumnya.

Tidak bisa dipungkiri, sekian banyak  aspek kehidupan insan akan terus berubah seiring dengan revolusi dan pertumbuhan teknologi yang terjadi. Memang evolusi seringkali diiringi tidak sedikit dampak negatif dan memunculkan masalah-masalah baru. Namun, perubahan pun selalu dapat membawa masyarakat ke arah yang lebih baik.

Simpulannya, revolusi industri 4.0 bukanlah sebuah kejadian yang menakutkan, malah membuka kesempatan yang semakin luas untuk anak bangsa guna berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

0 komentar:

Posting Komentar