Jumat, 21 Juni 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | teknologi informasi pemerintahan

TEKNOLOGI INFORMASI | Menristek Ingin Iptek dan Inovasi Seperti Negara Maju




TEKNOLOGI INFORMASI - Pengembangan Taman Sains dan Teknologi menjadi di antara program prioritas Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada 2020. Selain tersebut juga terdapat Pengembangan Pusat Unggulan Iptek, Beasiswa SDM Iptek, Teknologi guna Masyarakat, Pengembangan Teknologi Industri, Pengembangan PPBT (Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi), dan Pengembangan Inovasi Industri.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan perkiraan riset pun tersebar di sejumlah kementerian/lembaga. Pihaknya bakal terus mengerjakan koordinasi dan sinergi supaya inovasi yang didapatkan sesuai dengan yang dibutuhkan.

"Kita telah punya Master Plan Riset Prioritas di Indonesia, yakni Rencana Induk Riset Nasional (RIRN). Di tahun 2025, saya menginginkan Indonesia Iptek dan Inovasinya melesat laksana negara maju. Misalnya laksana Korea Selatan," ujar Nasir, dalam penjelasan persnya, Kamis (20/6/2019).

Baca Juga : teknologi informasi komunikasi

Adapun RIRN merangkum bidang-bidang prioritas Ristek dan Inovasi. Yakni Pangan Pertanian, Kesehatan Obat, Teknik Rekayasa (termasuk Teknologi Informasi dan Komunikasi), Transportasi, Material maju, Teknologi Pertahanan, EBT (Energi Baru Terbarukan), Maritim, Kebencanaan, dan Sosial Humaniora.

Di samping RIRN ketika ini pemerintah bareng DPR pun tengah merangkai RUU Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas Iptek). Dimana didalamnya pun akan menata dengan jelas implementasi Iptek dan Inovasi di Indonesia.

"Dengan adanya RIRN dan UU Sisnas Iptek nantinya, saya bercita-cita semua lembaga litbang di kementerian, Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) dan Perguruan Tinggi bakal terkoordinir msnjadi lebih sinergis," jelas Nasir.

Menurutnya pengembangan penelitian teknologi dan inovasi, mesti tidak jarang kali berkembang lebih baik ke depan. Apalagi Indonesia dan negara beda didunia mesti menyiapkan strategi menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan menjangkau Sustainable Development Goals (SDGs) targets.

"Pengembangan ristek dan inovasi di Indonesia mesti diupayakan guna memajukan UKM maupun Industri di Indonesia," ujar Nasir.

Sementara itu, sebagai hasil dari upaya Kemenristekdikti mengaktifkan inovasi, dalam 5 tahun terakhir jumlah start up dari tahun 2015 hingga 2019 melonjak menjadi 1307 (total start up dan calon start up) yang didanai Kemenristekdikti di periode 2015-2018.

Baca Juga : Ponsel Berfitur GPS Cegah Kecelakaan Akibat Swafoto

Di bidang energi, dunia penelitian tanah air pun telah menghasilkan hasil yang membanggakan laksana Katalis Merah Putih hasil kolaborasi Institut Teknologi Bandung dan PT. Pertamina.

"Untuk inovasi di bidang 'renewal energi' telah didapatkan Katalis Merah Putih (hasil kerjasama ITB dan Pertamina Dumai), dipraktekkan di Pertamina Dumai. Inovasi laksana ini akan mengurangi cost nantinya," pungkasnya.

Sementara itu, Kementerian Ristekdikti pada Rabu kemarin (19/6/2019) telah mengucapkan pagu indikatif guna Tahun Anggaran 2020 untuk Komisi VII DPR RI sebesar 39,7 triliun rupiah.

Yakni dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI mengenai Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA K/L) RAPBN Tahun Anggaran 2020 di Gedung Nusantara I DPR.

Adapun alokasi perkiraan tersebut terdiri dari faedah pendidikan sebesar 39 Triliun dan faedah riset teknologi (ristek) sebesar 715,04 miliar. Pada tahun sebelumnya (2019) pagu Kemenristekdikti sebesar Rp 40,21 triliun.

Baca Juga : Telkomsel Rilis Solusi IoT Manajemen BBM

0 komentar:

Posting Komentar