Kamis, 20 Juni 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | teknologi informasi merupakan

TEKNOLOGI INFORMASI | Teknologi Informasi versus Sumber Daya Manusia




TEKNOLOGI INFORMASI - Kenapa dinamakan percepatan? dan bukan kecepatan? Karena nyaris setiap 3 bulan sekali hadir produk-produk TI terbaru, seterusnya dapat lebih cepat lagi dan dengan pertumbuhan yang lebih tidak sedikit bentuk, ragam, dan kegunaannya.

Bisa dibayangkan, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer semester 1 bakal segera usang (expired) ilmunya pada semester 3 (dengan asumsi bilamana mereka tidak inginkan up date dirinya).

Semua perusahaan dan organisasi yang bergerak di bidang TI laksana tidak inginkan ketinggalan dalam menimbulkan produk-produk baru yang lebih mudah, murah, dan ramah dengan pemakainya serta mengasyikkan (fun).

Tentu saja, mereka berlomba-lomba dan saling menginformasikan bahwa produk mereka ialah yang sangat familier. Padahal sekitar ini, pola pikir beberapa masyarakat menyatakan, bahwa TI tergolong hal yang rumit, ribet, serta membutuhkan waktu yang lama guna menguasainya.

Dan, membutuhkan modal yang besar, walaupun anda tahu pola pikir laksana ini tidak salah-salah amat tapi pun sayangnya tidak sungguh-sungguh amat. Kenapa mereka memiliki pola pikir begitu? Ini tidak beda karena diakibatkan oleh semua pemakai sendiri (user).

BACA : Robot Iron Man Siap Diboyong ke Indonesia

Pengguna terkadang tidak memakai gawai cocok kebutuhannya, namun lebih untuk keinginannya. Sebagai contoh untuk mereka yang melulu perlu komunikasi sebetulnya tidak butuh gawai yang dikenal dengan smartphone.

Tapi, sebab gencarnya promosi serta harga yang kini lebih tercapai dan merasa terangkatnya gengsi saat menggunakannya, maka kesudahannya mereka melakukan pembelian smartphone tadi.

Setelah mereka beli, baru mereka menikmati ribet dan rumitnya sang smartphone. Gawai yang dikenal dengan smartphone tersebut memang seharusnya bikin yang smart people.

Di mana, smartphone tersebut bermanfaat sebagai perangkat yang menghasilkan uang. Sayang, fakta yang anda lihat kini ini, smartphone lebih tidak sedikit dimanfaatkan guna hal-hal yang mempunyai sifat hiburan (game) atau sekadar sosialisasi di dunia maya (Whatsapp, Facebook, Twitter, Instagram, dan BBM).

Anda dapat melihat di dekat kita bahwa pemakai yang smart (pintar) guna smartphone ini lumayan banyak, namun yang benar-benar smart dalam pemakaiannya tentulah jauh lebih kecil.

Hal yang dilafalkan di atas baru membicarakan sebuah perangkat teknologi yang dinamakan HP atau smartphone. Bagaimana dengan jenis TI yang lainnya? Kembali ke narasi di atas bahwa kemunculan dan berkembangnya TI ialah untuk memudahkan, bersahabat dengan pemakai serta berharga terjangkau.

Baca Juga : Luar Biasa! Cerdasnya Robot Sophia

Hampir seluruh kehidupan kita kini ini tidak jarang kali bersentuhan dengan TI, mulai dari bangun tidur, bekerja, bisnis, transaksi perbankan, melamar pekerjaan, keterampilan profesi, bersosialisasi hingga dengan kamar mandi juga TI tidak inginkan ketinggalan.

Hal ini memunculkan pertanyaan yang lumayan menggelitik, yaitu bila memang seluruh sudah memanfaatkan TI lagipula sih gunanya karyawan? Berarti TI ini nantinya dapat jadi pemicu bertambahnya pengangguran dong? Dan, dampaknya pastilah menambah kemiskinan.

Kalau kita menyaksikan dengan kacamata yang sempit, maka kita dapat mengaminkan pertanyaan atau pendapat di atas. Tetapi, bila kita menyaksikan lagi dari perspektif yang lebih luas, maka pendapat di atas tidak terbukti sama sekali.

Memang TI dapat mengambil alih kemampuan manusia, tapi melulu sebagian kecil sebetulnya yang dipungut oleh TI tersebut. Banyak kemampuan lain adalahcelah besar untuk manusia untuk dapat memanfaatkan TI sebagai sarana guna mendapatkan kegiatan atau pun berbisnis.

Kita ambil misal gampangnya yakni ATM (Anjungan Tunai Mandiri/Automatic Teller Machine) suatu mesin pintar yang dapat menggantikan faedah seorang teller pada suatu bank.

Ketika terdapat masalah di ATM tersebut, contohnya uang tidak keluar, kartu tertelan mesin, dan lain-lain. Apakah anda akan marah-marah ke mesinnya?

Tentu saja tidak, sebab sehebat apapun kemarahan kita bahkan hingga energi terkuras berakhir pun si mesin bakal tetap diam dan tenang-tenang saja mendengarnya tanpa menyerahkan solusi apapun.

Akhirnya, tetap saja kita (kita) bakal melaporkan untuk petugas yang berwenang terhadap situasi tersebut, contohnya ke Customer Service (CS). Selanjutnya, CS akan mengucapkan keluhan tersebut untuk karyawan yang mempunyai kemahiran dalam pemeliharaan ATM tersebut.

Dalam permasalahan tersebut saja dapat dilihat paling tidak sudah melibatkan 2 orang karyawan, tersebut belum tergolong tenaga TI sebagai pembuat programnya, tenaga penjaja (sales force) yang menawarkan teknologi tersebut, empunya modal dan stakeholders lainnya.

Berdasarkan deskripsi di atas jelaslah bahwa Teknologi Informasi dan Sumber Daya Manusia bukanlah dua urusan yang saling berbeda atau saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya.

Tapi, adalahbagian yang saling menyokong, kehadiran TI dalam kehidupan insan adalahsesuatu yang mesti disyukuri bukan sebaliknya.

Kita tidak dapat bayangkan bilamana tanpa adanya TI, dunia kedokteran laksana operasi bedah jantung, syaraf, dan lain-lain yang sifatnya mikro dapat terlaksana dengan sempurna.

TI pun penyumbang penyedia tenaga kerja yang besar dengan gaji rata-rata karyawan dengan keterampilan TI yang baik seringkali jauh di atas UMR (Upah Minimum Regional).

Baca Juga : Teknologi 5G Dikhawatirkan bakal Kacaukan Sistem Prakiraan Cuaca



Menerapkan persepsi tubuh inferensi aktif ke robot humanoid


0 komentar:

Posting Komentar