Jumat, 14 Juni 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | teknologi informasi kbbi

TEKNOLOGI INFORMASI | KBBI Braille 
Elektronik Ditargetkan Akhir Tahun




TEKNOLOGI INFORMASI - Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sedang menyiapkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Braille elektronik.

Kamus guna penyandang tuna netra ini adalah pengembangan dari KBBI Braille versi cetak yang masternya telah di berikan pada 26 Desember 2018 lalu untuk Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus Kemendikbud dan Bagian Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kementerian Sosial (Kemensos).

Untuk versi elektonik ini masternya sama dengan yang cetak. Namun edisinya berubah. Hal ini lantaran KBBI masing-masing tahun dimutakhirkan dua kali, yaitu sebelum bulan April dan Oktober. Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud Dadang Sunendar menyatakan saat ini pihaknya sedang konsentrasi mempersiapkan KBBI Braille elektronik yang pemakaianya dapat lebih gampang dan modern.

Baca Juga: Korsel Bakal Geser Windows, Ganti Pakai Linux

“Kami sudah menyelenggarakan pertemuan dengan Pustekkom Kemendikbudsebab meraka yang akan menolong secara teknis. Kami pun sudah berkoordinasi dengan asosiasi penyandang tuna netra dan mereka memberi masukan-masukan yang sangat urgen bersangkutan yang diperlukan mereka dalam KBBI Braille elektronik ini,” ujar Dadang di Jakarta, kemarin.

Secara teknis, tantangan yang dihadapi yaitu perlu waktu lumayan lamasebab harus terdapat rekaman guna sekitar 110.000 entri dalam KBBIguna sekitar 128.000 makna, sub arti dan seterusnya. “Itu kan mestidiucapkan dulu, dan yang membacanya mesti dengan suara dan intinasi yang standar,” urainya.

Meski demikian, lanjut dia, sebelum menciptakan versi elektronik makalangkah yang mesti dilaksanakan yaitu dengan menciptakan KBBI Braille versi cetak. “Harapannya akhir tahun ini, atau sangat tidak mula tahun depan KBBI Braille elektronik sudah dapat diluncurkan. Ini bakal sangatmenolong para penyandang tunanetra,” lanjutnya.

Hal ini sekaligus mengatasi tantangan penyebaran kamus versi cetak sebab terkendala biaya pencetakan dan penyaluran yang mahal. “Kalau kini versi cetaknya melulu ada di badan bahasa, perpustakaan nasional, dan Kemensos yang tidak lumayan untuk seluruh orang. Akan namun kami meminta kedua lembaga ini mencetak sejumlah banyaknya cocok kebutuhan,” tandasnya.

Dadang mengungkapkan bahwa KBBI Braille elektronik ini adalahkesatu di Indonesia diciptakan oleh Badan Bahasa. “Ini keperluan kita bersama,sampai-sampai tingkat literasi tidak saja untuk orang-orang tertentu, tetapi semua lapisan masyarakat,” terangnya.

Cara pemakaian KBBI Braille elektronik semudah menggunakan telepon genggam. Hanya perlu berapa detik untuk mengejar kosa kata apa yanganda cari. “Tetapi nanti yang terbit suara. Karena kebutuhannya kan lain. Sebenarnya ini bukan teknologi baru, tetapi sebab banyaknya yangmesti disiapkan maka kami perlu waktu guna koordinasi,” paparnya.

Baca Juga : Google Setop Android, Pengguna Ponsel Huawei Siap 'Berpaling'

Dalam pengembangannya ke depan, informasi lain mengenai buku-buku dari Badan Bahasa dan Perbukuan yang dapat diakses akan disampaikan di dalam KBBI Braille elektronik. “Kita punya ratusan bahkan ribuan hak cipta yang belum sepenuhnya disosialisasikan. Ini penting sebab produk kami tidak saja KBBI, dan ini seluruh milik masyarakat,” tandasnya.

Berdasarkan keterangan dari Dadang, di era digital kini ini teknik paling mudah mengucapkan informasi lewat aplikasi, di mana terdapat puluhan software yang dipunyai Badan Bahasa dan Perbukuan. “Namun sebab yang paling tidak sedikit digunakan masyarakat tersebut KBBI maka kami dahulukan KBBI ini. Sekarang masing-masing hari ada selama 44.000penelusuran KBBI di internet. Itu tertinggi di Indonesia,” paparnya.

Kepala Bidang Pengembangan Bahasa Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud Dora Amalia menambahkan, kini di Smartphone sudah adasoftware teks to speech. Pengguna melulu perlu menyiapkan artikel dan mesin yang bakal membacanya. Selain tersebut ada Google Speech berbahasa Inggris. “Itu adalahspeech to text, khususnya untuk pengertian karena kalimatnya lebih panjang, tapi bila entri mesti tepat,” kata Dora yangpun menjabat Ketua Dewan Redaksi KBBI.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan keterangan dari dia, KBBI Braille dibentuk demi mewujudkan keadilan dan pemerataan informasi untuk seluruh kalangan masyarakat. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 mengenai Penyandang Disabilitas. Alih huruf menjadi KBBI Braille dilaksanakan dengan melibatkan penyandang disabilitas langsung sebagai pemakai kamus.Setelah pengalihan huruf ke huruf Braille berlalu dan dicetak, dilakukan penyuntingan oleh penyandang disabilitas netra guna menghindarikekeliruan penulisan, keterbacaan, dan sebagainya. “Proses penciptaan KBBI Braille cetak lumayan lama dan mesti detail sebab dalam pembacaan tulisannya mesti diraba,” ungkapnya.

KBBI Braille ini dicetak dan dijilid secara khusus. Dalam masing-masing jilidnya mengandung 50 eksemplar kertas eksklusif cetakan Braille. Secara keseluruhan, KBBI Braille terbagi menjadi 139 jilid yang masing-masing jilidnya terdiri atas unsur depan kamus berisi tuntunan pemakaian, kemudian bagian batang tubuh berupa entri kamus dari A—Z, dan unsur belakang yang mengandung lampiran. “Kalau lebih dari tersebut dihawatirkan bakal saling mengurangi dan datanya bakal rusak. Menyimpannya pun jangan ditumpuk, kertasnya mesti eksklusif tidak bolehterlampau tebal ataupun terlampau tipis,” jelasnya.

Dari segi isi, KBBI Braille tidak bertolak belakang dari KBBI V. Tampilan luar KBBI Braille yang merangkum jenis dan ukuran tulisan, warna, logo Kemdikbud, dan sebagainya pun sama dengan KBBI V. Perbedaanya hanyalah pada ekstra nama instansi pengalih huruf inilah pencetaknya serta logo Braille. Keberadaan KBBI Braille diinginkan dapat menjadi sarana guna mencerdaskan kehidupan bangsa terutama semua penyandang disabilitas netra. (Sunu Hastoro/Neneng Zubaidah)

Baca Juga : Huawei Bersiap Rilis OS Hongmeng Pengganti Android

0 komentar:

Posting Komentar