Jumat, 14 Juni 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | teknologi informasi jurnal pdf

TEKNOLOGI INFORMASI | VUCA dan Dunia yang Tunggang Langgang


TEKNOLOGI INFORMASI - DALAM ranah bisnis, kata yang paling tidak sedikit dibahas pada era kekinian ialah VUCA. Ketika teknologi informasi begitu sakti ber-revolusi dan digitalisasi menjadi anak kandungnya, dunia (bisnis dan umum keseluruhan) mengalami suasana yang sarat gejolak (Volatility), tidaktentu (Uncertainty), rumit (Complexity), dan serba kabur (Ambiguity). Alhasil VUCA menggeser kekuasaan dua kata magis yang sekitar puluhan tahun menjadi pola pikir bisnis: efektivitas dan efisiensi. Kondisi VUCA dampaknya begitu kentara. Media cetak, angkutan, penginapan, tiketing untuk sekian banyak  keperluan, pertokoan, sampai gaya hidup yangdinamakan konvensional semua merasakan gejolak dan ketidak-pastian luar biasa. Sampai ketika ini model bisnis usaha konvensional tersebut merasakan transformasi yang belum ditemukan format pastinya. Sementara yang berubah dalam format digital ataupun yang memang semenjak lahir telah mempunyai DNA digital, masih mendapat kucuran dana maha besar yang entah hingga kapan mengejar titik baliknya. Pun teknologi (komunikasi) yang diinginkan mempermudah kehidupan, malah pada tidak sedikit kasus memunculkan kerumitan dan kekaburan baru yang tidak ditemukan dalam era manual.

Baca Juga : Sering Kali Siswa Lebih Mengusai Perkembangakan Teknologi Daripada Guru

Rumor yang tercipta dapat memporak-porandakan tatanan yang telah lama ada. Dalam bisnis, bangunan produk dengan brand  yang kokoh dantelah berumur panjang, dapat runtuh sebab rumor yang dihembuskan seseorang dari gawainya. Rumah santap tanpa sertifikat halal, makanan berisi bahan kedaluwarsa sampai proses penciptaan roti yang ternyataterdapat sarang tikusnya, merupakan misal paling aktual berita yang serba kabur yang akhirnya dipercayai sebagai suatu kebenaran. Alhasilempunya usaha itu harus berjibaku menanggulangi rumor tersebut. VUCA memang menciptakan dunia bisnis tunggang langgang. Banyak profesi lama bertumbangan. Pun hadir profesi baru yang pada dasawarsa lalu tidak terpikirkan. Aneka bisnis yang dijalankan dengan konvensional, mestibersahabat dengan distrik digital. Bisnis yang sejak mula didesain dengan platform digital, paling rentan terdisrupsi dengan penemuan-penemuan baru yang lebih modern sekaligus lebih murah. Pada ujung yang lain, perilaku konsumen merasakan perubahan signifikan. Konsumen memilikitidak sedikit pilihan, sekaligus memiliki ragam keinginan dan keperluan yang sebelumnya tidak ada. Dalam guncangan VUCA, terdapat satu yang tidak tergantikan; kepemimpinan.

Baca Juga : Keterkaitannya IPTEK dengan Nilai-Nilai Pancasila 

Peran pemimpin pada seluruh tingkat jabatan menjadi signifikan guna bersiasat mengendalikan dunia yang tunggang langgang ini. Sang pemimpin mesti mempunyai tiga kompetensi gunaberhasil berselancar dalam gelombang VUCA. Pertama ialah Visi. Keadaan yang sarat gejolak (volatility) hanya dapat diredam bilamana pemimpin mempunyai visi yang jelas dan simpel untuk diwujudkan. Pemimpin yangberhasil Adalah Hasnul Suhaimi sebagai misal paripurna pemimpin yang mempunyai visi demikian ini. Ketika diusung menjadi CEO di XL pada September 2006, ia langsung mengampanyekan visinya untuk seluruh karyawan. Visi tersebut diramu dalam formulasi yang sederhana; 123. Mantan Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi(Aditya Panji/KompasTekno) Artinya XL mesti menjadi nomer 1 (satu) dalam kualitas dan layanan serta menjadi nomer 2 (dua) dalam penguasaan pasar dalam masa-masa 3 (tiga) tahun. Visi tersebut terbukti. Hasnul dapat membawa XL menjadi nomer dua dalam penguasaan pasar dan kualitas jaringan XL terbaik dibanding provider seluler lainnya. Dicapai dalam dua separuh tahun.

Kedua ialah Inovasi. Revolusi teknologi informasi menciptakan sesuatu menjadi tidak tentu (uncertainty) dan serba kabur (ambiguity). Kekuatan bisnis masa lalu, dimana mesti tepat dalam perencanaan dan peramalan (forecasting)merasakan degradasi. Yang telah direncanakan dengan baik dan diramalkan berbasis pada data-data yang sahih, dapat sekejap menjadi berantakan manakala hadir bisnis sejenis dengan platform bertolak belakang yang jauh lebih murah dan gampang diakses konsumen. Tugas pemimpin guna mengantisipasi dengan satu kata kunci: inovasi. Majalah Forbes tahun 2018 ini menabalkan Jeff Bezos sebagai orang sangat tajir sedunia. Kekayaannya ditaksir sebesar 112 miliar dolar AS. Benar bahwa Amazon, perusahaan yang dibesutnya di antara pionir perniagaan dalam jaringan (online) yangawal kesatu memasarkan buku. Perjalanan Amazon sarat liku. Pernah begitu sakti meninggalkan jauh semua pesaing yang berbisnis sejenis. Pernah pula terperosok pada lubang nan dalam dan hampir bangkrut karenaberlahiran toko daring yang menjual ragam produk, di mana di antara produk itu buku. Lalu Amazon banting setir, mengerjakan inovasi bisnis. Tidak sekadar memasarkan buku, tetapi sebagai perusahaan penjaja ragam produk. Pun Amazon pun menjadi penyedia jasa teknologi. Berbagai urusan yang terhubung dengan teknologi terbarukan, Amazon menyediakan. Inovasi ini menjadikan Amazon sebagai pengecer daring terbesar sekaligus penyedia jasa teknologi paling menyeluruh di dunia. Alhasil harga saham Amazon terkerek naik dan pundi-pundi fulus mengalir deras ke kantong Jeff Bezos. Belajar dari Bezos, guna menyiasati suasana yang sarat ketidakpastian dan serba kabur, inovasi menjadi teknik paling elegan. Lincah.

Ketiga ialah Lincah. Ini kisah tentang perusahaan yang berdiri tiga tahunsesudah Indonesia merdeka. Tagline perusahaan ini begitu familiar “Satu lagi dari Mayora.” Dengan tagline ini, Mayora memberitakan bahwa perusahaan rajin berinovasi. Mayora akan menerbitkan produk baru terus menerus. Inovasi di Mayora tidak berdiri tunggal. Ia didampingi dengan kualitas dan sistem yang cocok dengan pertumbuhan jaman. Tiga pilar ini –inovasi, kualitas, sistem – yang menciptakan Mayora tetap lincah bergerak walaupun usianya telah tidak muda lagi. Kelincahan Mayora terbukti. Ketika bisnis dagangan konsumen di Indonesia telah dalam tingkat kompetisi samudera merah, Mayora dapat konsisten bertumbuh lebih dari 20 persen pertahun. Jauh meninggalkan pesaingnya. Produk baru Mayora, Teh Pucuk Harum dan Le Minerales dapat menggoncang pemain yang sekitar puluhan tahun menguasai pasar. Lincah bergerak ini tentu dibuka dari pemimpin tertingginya. Sang CEO, Andre Sukendra Atmadja, penerus tahta Mayora yang kurang mampu dalam publikasi tetapi kaya dalam kinerja, bergerak lincah membawa produk Mayora menjelajahi sembilan puluh negara yang terdapat di planet ini. Sebuah kewajaran bilamana hari ini Mayora menjadi penguasa pasar dagangan konsumen. Lincah memang strategi untukmembalas kerumitan (complexity) dalam bisnis.

Baca Juga : Kekuatan Baru Ciptakan Public Space dalam Demokratisasi

0 komentar:

Posting Komentar