Rabu, 08 Mei 2019

Teknologi informasi - teknologi informasi amikom

Pembelajaran Semakin Personal dan Bersifat Visual



Teknologi informasi  - teknologi informasi amikom 


Teknologi informasi -   Pendidikan Indonesia butuh bertransformasi guna menyiapkan generasi pembelajar. Guru-guru ketika ini mesti melatih siswa dari generasi Z yang mempunyai ciri khas yang berbeda.

Pengembangan Teknologi Pembelajaran Ahli Utama Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sumarno mengatakan, guru perlu teknik yang bertolak belakang dalam mengelola generasi Z (usia 6-20 tahun) yang ketika ini tengah menempuh pendidikan. Generasi ini adalahmasyarakat informasi yang berpendidikan.

"Maka tersebut perlu menciptakan metode pengajaran yang baru, memanfaatkan teknologi, dan cara-cara baru guna pembelajaran," kata Sumarno ketika menjadi penceramah di Seminar Internasional Science Education Towards 21th Century Skills and Industrial Revolution 4.0 di Aula Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) Jalan Diponegoro Kota Bandung, Rabu 8 Mei 2019.

Ia mengatakan, tren pembelajaran di masa mendatang terbuka lebar. Pembelajaran lebih mempunyai sifat visual, semakin personal, dan dapat di mana saja.

Data World Economic Forum 2016 menyebut, 65 persen anak-anak yang masuk SD ketika ini bakal bekerja pada kegiatan yang belum ada ketika ini. Dengan kata lain, profesi-profesi yang benar-benar baru.

Perkembangan teknologi, kata Sumarno, memberi peluang sekian banyak  metode pembelajaran. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk menambah efisiensi dan efektivitas pembelajaran.

Sumarno mengatakan, pemakaian TIK sendiri telah dipakai secara terintegrasi. Mulai dari PPDB daring, proses belajar lewat Rumah Belajar, TV Edukasi, dan sebagainya. Sebagai output, telah dilakukan pula Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). "Pada kesudahannya sebagai outcome, siswa dapat membuat portofolio," katanya.

Harus berubah
Dean of College of Education Charles Darwin University, Australia Greg Shaw menjelaskan, transformasi edukasi tengah terjadi di semua dunia. Pendidikan mesti berubah, begitu pula di Indonesia.

Berdasarkan keterangan dari pengamatannya, edukasi di Indonesia paling dipacu oleh ujian. Konten masih menjadi urusan utama pada pengajaran. Sehingga guru masih menjadi pusat proses belajar mengajar. 

"Sudah ada evolusi yang baik di Indonesia. Ada pelatihan guru-guru ke luar negeri, perbaikan kurikulum. Sudah ada evolusi kebijakan. Tapi masalahnya, sulit mengolah kultur," tuturnya.

Ia mengatakan, teknologi digital dapat menjadi solusi. Lewat MOOCs (Massive, Open, Online Courses), pendidikan dapat lebih tepat guna menjangkau lebih tidak sedikit orang. Pembelajar atau siswa dapat menjadi pusat pembelajaran tersebut sendiri. "Mereka dapat memanfaatkan sekian banyak  media belajar," katanya.

Ia mengatakan, guru tidak boleh lagi konsentrasi pada hal-hal apa saja yang mesti dikatakan kepada siswa. Sebab bahan ajar semakin lama semakin tidak sedikit dengan berkembangnya pengetahuan. Tidak pernah ada masa-masa yang lumayan untuk mengucapkan materi. "Yang butuh diajarkan ialah bagaimana teknik mendapatkan informasi, bagaimana memecahkan persoalan. Guru bukan ensiklopedia ilmu pengetahuan," ucapnya.

Pada seminat internasional ini, muncul pula sebagai penceramah William Thornburgh dari American Modelling Teacher Association, Amerika Serikat dan Masanobu Sakamoto dari Nagoya University, Jepang.

0 komentar:

Posting Komentar