Jumat, 31 Mei 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | teknologi informasi dan globalisasi

TEKNOLOGI INFORMASI | Eksploitasi Tubuh 
Wanita di Era 4.0

Era Empat titik nol (4.0) atau yang bisa saya simpulkan sebagai era PostModernitas dimana dunia sedang mengalami suasana yang bertolak belakang dengan era sebelumnya. Postmoderen adalahsuatu istilah yang begitu terkenal saat istilah Francis Lyotard mengumandangkan kematian narasi-narasi besar dan menjadi term populer dalam rana Humaniora dan Ilmu sosial serta Filsafat. Post Modernitas sebagai sebuah epost, pasti mempunyai perbedaan dengan era modernitas, dimana era postmodernitas ini lebih fleksibel, peluang terbuka untuk mendapat  jenis keanggotaan, Heterogenitas, selera yang lebih bebas, dan beda sebagainya. Dengan demikian pola dalam logika Rasionalitas dan Ekonominya pun tentumerasakan perubahan dari Sistem Mcdonaldisasi yang begitu kaku dan Homogen ke sebuah Sistem baru yang mengandalkan tenaga digital sebagai proses mekanismenya.



TEKNOLOGI INFORMASI - Dunia yang sudah dilanda oleh demam dan candu pada teknologi digital pun turut menjadikan segala bentuk kegiatan anggota masyarakatnya yang serba online. Budaya Onlinesitas sebagai buah Rasionalitas pun telah dominan  pada tingginya permintaan akan software Online, demikian halnya dalampermasalahan perdagangan tubuh permpuan yang pun telah ditembus oleh logika Onlinesitas atau lebih anda kenal sebagai prostitusi online. Perempuan, melewati tubuhnya, ialah kelas sosial yang sangat sering di objektifikasi dan senantiasa menjadi menjadi sasaran dalam sekian banyak  bentuk. Tuntutan bakal kepuasan hasrat seksual membimbing orang guna mengobjektifikasi sebuah hal guna dipergunakan sebagai sasaran pemenuhan hasrat subjeknya.

Dalam urusan ini saya bakal membas mengenai prostitusi Online di era 4.0 ini yang mengandalkan sebuah pertumbuhan teknologi. Perkembangan teknologi memberi akibat yang besar dalam sekian banyak  aspek kehidupan. Mudahnya mengakses segala informasi melewati internet memungkinkan seluruh orang mendapatkan urusan yang positif maupun negatif melulu dengan handphone atau perlengkapan lain yang dapat mengakses internet. Teknologi selalu mempunyai sifat netral, pemakaian secara positif atau negatif tersebut tergantung untuk pemakainya. Kebebasan seseorang guna mengunggah ataupun mendownload sesuatu di internet nampaknya pun telah tidak sedikit disalahgunakan contohnya sebagai media penjual bisnis prostitusi.

Dalam segala urusan sesuatu yang positif tentu tetap mempunyai nilai negatif, tergolong internet. Kemudahan menemukan data dan informasimelewati internet ternyata pun dibarengi dengan mudahnya menemukan pornografi dalam berbagai format seperti gambar, video, bahkan jasa prostitusi tersebut sendiri. Di Indonesia sendiri bisnis esek-esek ini tumbuh seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi. Perubahan praktek prostitusi dari konvensional menjadi online tidak terlepas dari postmodern dimana menunjuk pada kondisi dan tata sosial produk teknologi informasi, globalisasi, fragmentasi gaya hidup, konsumerisme yang berlebihan, deregulasi pasar duit dan sarana publik.

BACA : Teknologi Menjadi Kunci Perpindahan Ibu Kota

Seberapapun prostitusi diberantas oleh pemerintah dengan memblokir tempat-tempat prostitusi tetapi bisnis ini seolah tidak terdapat matinya dan selalu mengejar jalan lain guna menjajakan jasanya. Bisnis ini justru dirasakan lebih menguntungkan dibanding prostitusi secara konvensional sebab identitas perempuan penyedia jasa maupun pemakaijasa bakal dirahasiakan. Ada tidak sedikit praktek yang dipakai dalam prostitusi online ini. Misalnya dengan menjadi member dari seorang mucikari melewati blackberry messenger atau yang terang-terangancontohnya dengan memasang potret wanita yang dapat diajak berkencan di situs-situs yang memang memasarkan jasa prostitusi.


Dengan memasang potret wanita di situs-situs tertentu, calon pelangganbakal menjadi laksana berada di depan etalase kaca dengan wanita-wanita cantik di dalamnya. Wanita-wanita yang di potret tersebut tidak tidak jarang kali sama dengan perempuan aslinya, sebab untuk benar-benardapat berkencan dengan wanita itu harus melewati transaksi dengan menghubungi nomor telepon yang terdapat ataupun dengan kriteria-syarat lain. Postmodern menanam seseorang mempunyai pandangan bakal sesuatu yang sebetulnya tidak nyata menjadi seakan-akan nyata misalnya disini calon pemakai jasa bakal memilih salah satu potret wanita yangdiharapkan jasanya dan barangkali antara potret dengan aslinya berbeda.

Wanita yang dijajakan jasanya melewati online seringkali wanita ruang belajar atas secara jasmani dan dengan tarif yang tinggi. Pengguna jasa wanita-wanita ini seringkali lelaki hidung belang berdompet teballaksana pengusaha, semua pejabat, dan beda sebagainya. Mengingat strategisnya kegiatan yang dipunyai sebagian besar pemakai jasa prostitusi ini maka prostitusi online dirasakan sebagai teknik yang lebih simple dan aman dibandingkan teknik konvensional sebab kemungkinanguna bertemu orang yang dikenal bilamana datang sendiri untuk menggali wanita penyedia jasa tidak jarang kali ada. Pergeseran teknik dari konvensional menjadi online mengindikasikan bahwa postmodern sudah merubah perilaku masyarakat dalam sekian banyak  hal tergolong prostitusi.

Dalam menganalisi urusan ini saya memakai teori Simulacra serta teori Penggunaan dan Kepuasan (Uses and Gratification Theory). Merujuk pada Jean Baudrilard, ada tiga tingkatan dalam proses simulacra (Baudrilard, 1983 : 54 – 56 ). Pertama yakni simulacra yang dilangsungkan semenjak era renaissance. Kedua, simulacra yang dilangsungkan seiring denganpertumbuhan era industrialisasi. Tahap ketiga, simulacra yangbermunculan sebagai konsekuensi berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Nah, disini saya memungut konsep etape ketiga yang dimana pada etape ini membicarakan tenyang konseksuensi daripertumbuhan pengetahuan dan teknologi yang mencetuskan era 4.0 yang di antara konseksuensinya terdapat pada onlinesitas tubuh perempuan (perdagangan online tubuh wanita).

BACA : Customer Relationship Management (CRM) Solusi Terbaik Bagi Industri Otomotif

Lalu ada pun teori pemakaian dan kepuasan yang digagas oleh Elihu Katz, Jay G. Blumler dan Michael Gurevitch hadir sebagai reaksi terhadap riset komunikasi massa tradisional yang menekankan pada pengirim dan pesan. Teori pemakaian dan kepuasaan ini menekankan pada khalayak yang aktif dalam memakai media massa. Yang menjadi poin utama teori pemakain dan kepuasan ialah orientasi psikologis dalam mengisi kebutuhan, motivasi, dan kepuasan pemakai media massa. Inti dari teori ini terletak pada asumsi anggota khalayak secara aktif menggali media massa guna memenuhikeperluan masing-masing individu. Sama halnya pada keperluan hasrat (libido) pada laki-laki yaitu libido sexs atau keperluan biologis. Kebutuhan ini tidak lagi melulu di jajalkan secara konvensional tetapipun secara online yang mempermudah mereka memuaskan hasrat tersebut.

Dari ulasan diawal dapat anda simpulkan bahwa pertumbuhan era 4.0 atau postmodernitas ini selain mempermudah mencari informasi dan lain-lainpun menjadi boomerang atas peradaban hal-hal negative laksana prostitusi online ini. Maka dalam permasalahan prostitusi ini undang-undang yang menata tentang prostitusi online baik KUHP maupun UU ITE berperan urgen untuk menangkal hal-hal laksana ini.

0 komentar:

Posting Komentar