Selasa, 28 Mei 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | teknologi informasi berdasarkan fungsi sistem


Peretas bisa memasang peranti mata-mata pada ponsel dan gawai beda dengan memanfaatkan kekurangan pada software WhatsApp (WA).

WhatsApp, yang dipunyai oleh Facebook, menuliskan peretasan menyasar "sejumlah pemakai tertentu" dan dilancarkan oleh "seorang aktor siber yang canggih".


TEKNOLOGI INFORMASI - Pembenahan bakal diluncurkan pada Jumat 17 Mei 2019 mendatang.
Penyerangan itu, menurut keterangan dari laporan Financial Times, dikembangkan suatu perusahaan ketenteraman Israel mempunyai nama NSO Group.
Pada Senin 13 Mei 2019, WhatsApp mendorong 1,5 juta pemakainya untuk memutakhirkan software sebagai tahapan antisipasi.

BACA : OJK Kembali Umumkan 144 Fintech P2P Lending Ilegal

Serangan peretasan tersebut sendiri baru ditemukan mula bulan ini.
Peretas memanfaatkan panggilan suara WhatsApp untuk mencapai perangkat ponsel seorang target.
Kalaupun panggilan tersebut tidak direspons, peranti mata-mata bakal terpasang dan, sebagaimana diadukan FT, panggilan suara tersebut kerap menghilang dari susunan panggilan pada ponsel.
WhatsApp mengatakan untuk BBC bahwa kesebelasan keamanannya ialah pihak kesatu yang mengidentifikasi celah itu dan berbagi informasi tersebut kepada sejumlah kumpulan pelindung HAM, sejumlah perusahaanketenteraman tertentu, dan Departemen Kehakiman AS mula bulan ini.
"Serangan tersebut punya karakteristik sebuah perusahaan swasta yangdiadukan bekerja sama dengan pemerintah untuk mengucapkan peranti mata-mata yang memungut alih fungsi-fungsi sistem operasi telepon seluler," sebut WhatsApp dalam daftar untuk semua wartawan.

Data sensitif

NSO Group ialah sebuah perusahaan Israel yang di masa kemudian dirujuk sebagai "penjual senjata siber".
Perangkat lunak produksi mereka, Pegasus, punya keterampilan mengumpulkan data sensitif dari gawai kepunyaan orang yang menjadi target, termasuk menciduk data melewati mikrofon dan kamera sertamengoleksi data lokasi.
Dalam pengakuan resmi, perusahaan tersebut menyebut: "Teknologi NSO diberi lisensi oleh badan pemerintah yang berwenang untuk destinasi memerangi durjana dan teror.
"Perusahaan tidak mengoperasikan sistem itu, dan setelah melewati proses lisensi dan seleksi ketat, aparat hukum dan intelijen menilai bagaimanamemakai teknologi ini untuk mendukubg misi-misi keselamatan publik. Kamimenginvestigasi setiap dakwaan kredibel tentang penyalahgunaan danandai diperlukan, kami memungut tindakan, tergolong mematikan sistem.

BACA : Peran Teknologi Paten Asli Bontang di Kancah Era Industri 4.0

"NSO tidak boleh tercebur dalam pengoperasian atau identifikasi target yang dilaksanakan teknologinya, yang dioperasikan oleh badan penegakan hukum dan intelijen. NSO tidak dapat dan tidak hendak menggunakan teknologinya secara sepihak guna menyasar orang atau organisasi manapun."
WhatsApp menuliskan terlalu dini untuk memahami berapa tidak sedikit pemakai yang terdampak oleh celah dalam software tersebut. Meski demikian, perusahaan tersebut menambahkan, pihak-pihak yang diperkirakan terpapar serangan adalahpihak yang paling penting.

Mengawasi aktivis

Amnesty International, yang mengaku telah menjadi sasaran peranti ciptaan NSO Group pada masa lalu, menuliskan serangan itu ialah salah satu yang dikhawatirkan akan terwujud.
"Mereka dapat menginfeksi telefon kita tanpa Anda mengerjakan tindakan apapun," kata Danna Ingleton, wakil direktur program guna Amnesty Tech.
Menurutnya, ada tidak sedikit bukti bahwa peranti itu digunakan rezim-rezim untuk memantau aktivis dan jurnalis ternama.
"Harus terdapat pertanggungjawaban guna hal ini. Industri ini tidakdapat terus berlanjut dengan kerahasiaan dan laksana Wild West."
Pada Selasa 14 Mei 2019, pengadilan di Tel Aviv akan memperhatikan petisi Amnesty International yang menyeru untuk menteri pertahanan Israel untukmenarik keluar lisensi NSO Group guna mengekspor produk-produknya.

BACA JUGA : Lima Alasan Mengapa Barat Khawatir dengan Perusahaan Teknologi China

0 komentar:

Posting Komentar