Senin, 27 Mei 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | teknologi informasi apa itu


Pemanfaatan media sosial harus dibarengi dengan kesadaran digital yang memadai supaya tidak memunculkan akibat destruktif yang bisa memporak-porandakan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menyusul kerusuhan di sebanyak titik di Jakarta, Selasa (21/5) dan Rabu (22/5), pemerintah Indonesia mengambil kepandaian pemblokiran secara parsial dan temporer akses terhadap layanan sebanyak media sosial. Ada yang setuju dan ada pun yang tidak setuju dengan tahapan pemerintah tersebut.

Yang setuju menilai tahapan pemerintah tersebut dapat dicerna demi menangkal terjadinya kerusuhan yang lebih besar dampak dari beredarnya informasi bohong dan provokatif lewat jejaring media sosial.


TEKNOLOGI INFORMASI - Mereka yang tidak setuju menilai tahapan pemerintah Indonesia itu sebagai pelanggaran berat hak asasi manusia. Mereka berdalih, hak untuk menyampaikan pendapat lewat media, apa juga medianya, dan hak untuk mendapat  informasi, ialah hak mendasar yang jangan dihalang-halangi dengan teknik apa juga dan oleh siapa pun.

Perilaku Produktif

Saat ini, Indonesia sedang di peringkat keenam sebagai negara dengan jumlah pemakaiinternet terbanyak di dunia, sesudah Jepang, Brazil, India, Amerika Serikat, dan China. Jumlah pemakai internet di negeri ini diduga mencapai 171,17 juta jiwa atau selama 64,8 persen dari jumlah total penduduk.

Sayangnya, jumlah pemakai internet yang tinggi itu belum dibarengi dengan perilaku produktif semua pemakainya. Sebagian besar pemakai internet anda tetap memanfaatkan internet sebagai perangkat hiburan semata. Merujuk untuk survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), sebesar 89,35 persen pemakai internet di Indonesiamemakai internet melulu untuk mengakses software percakapan (chatting), dan 87,13 persen guna mengakses media sosial.

Terkait media sosial, kabar buruknya, pasti saja, meskipun media sosial mencetuskan sejumlah manfaat, laksana menyambung tali silaturahim, meningkatkan pertemanan dan memperluas jejaring sosial serta relasi bisnis, mesti dinyatakan keberadaan situs-situs media sosial ini malah lebih tidak jarang dimanfaatkan guna hal-hal yang tidak produktif.

BACA : Perusahaan Kudu Kreatif Pakai Teknologi Digital

Salah satu perilaku tidak produktif dalam pemanfaatan media sosial di negeri ini yakni mengumbar kebencian. Kalau anda buka media sosial, maka tidak jarang kali saja dapat kita temukan unggahan-unggahan yang bernada kebencian, laksana penghinaan, perusakan nama baik, penistaan, tindakan tidak menyenangkan, provokasi, penghasutan, dan penyebaran kabar-kabar bohong, baik yang ditujukan untuk perseorangan, kelompok, maupun lembaga.

Sekarang ini, siapa pun dapat menayangkan apa saja yang dikehendakinya ke media sosial, entah tersebut berupa teks, gambar, suara, video, maupun mengerjakan tayangan langsung (live streaming). Meskipun demikian, semua pemakai media sosial di negeri inidiinginkan memiliki keterampilan untuk memilih dan memilah mana yang pantas dan mana yang tidak pantas mereka tayangkan di media sosial.

Generasi muda anda sebagai pemakai terbesar internet kini ini dan di masa yang bakal datang diinginkan dapat lebih cerdas dan lebih arif dalam memanfaatkan peradaban teknologi informasi dan komunikasi. Kita sama sekali tidak hendak generasi penerus bangsa ini berperilaku kontraproduktif dan berkarakter buruk yang hanya gemar memaki-maki, menista, memfitnah, menghasut, mengadu domba, gemar menyebarkan kabar-kabar bohong, dan ingin intoleran serta diskriminatif.

Ini ialah satu kendala berat untuk para orangtua dan semua pendidik kita ketika ini. Karenanya, butuh kesadaran seluruh pihak, tergolong keluarga dan pihak sekolah, guna dapat semaksimal mungkin menunjukkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa, supaya mereka dapat menjadi pemakai teknologi digital yang cerdas dan bijak.

Untuk itu, butuh ada upaya membina dan menanamkan kesadaran digital untuk anak-anak kita semenjak dini. Secara sederhana, kesadaran digital bisa didefinisikan sebagaiketerampilan untuk menggunakan, memahami, mengevaluasi, menciptakan, dan mengkomunikasikan informasi memakai teknologi digital secara tepat guna.

Dengan mempunyai kesadaran digital diinginkan individu bisa memanfaatkan peradaban teknologi informasi dan komunikasi secara lebih kritis dan lebih bertanggung jawab sehingga dapat memilih dan memilah mana informasi yang diperlukan dan mana yang tidak, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.

Yang tidak kalah krusial ialah bagaimana pihak pemerintah dapat menciptakan iklim yang mendorong masyarakat kita bersaing melahirkan konten-konten internet yang unik dan bermutu, yang pada gilirannya akan membuat penduduk negeri ini makin produktif.

Tindakan memblok akses layanan media sosial demi menangkal beredarnya kabar-kabar bohong dan provokasi sama sekali tidak diperlukan tatkala penduduk negeri ini sudah mempunyai kesadaran digital yang mumpuni.

BACA JUGA : Brainly, situs sekaligus software yang dapat tolong kerjakan PR

0 komentar:

Posting Komentar