Senin, 27 Mei 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | teknologi informasi bagi perusahaan


Google menyimpulkan tidak bakal lagi membolehkan Huawei, perusahaan telepon genggam terbesar kedua di dunia, mengakses pembaruan ketenteraman sistem operasi Android.
Itu berarti peranti baru Huawei bakal kehilangan akses terhadap sebanyak aplikasi.

Langkah ini dipungut Google sesudah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkanterpaksa nasional pekan kemudian “untuk mengayomi jaringan komputer Amerika Serikat dari musuh-musuh asing”.

Para analis meyakini kepandaian tersebut “sengaja ditunjukkan ke Huawei”.


TEKNOLOGI INFORMASI - Di samping memproduksi telepon genggam, Huawei pun membuat perlengkapan komunikasi. Diperkirakan, Huawei menguasai selama 40-60% jaringan di semua dunia.

Berikut lima urusan yang menciptakan Barat sangat cemas dengan Huawei.

1. Jaringan super cepat 5G

Huawei ketika ini sedang berunding dengan tidak sedikit negara guna memasok sistem jaringan super cepat generasi kelima, 5G.

Sistem ini begitu cepat sampai-sampai ideal untuk digunakan ke produk laksana mobil swakemudi.

Jika infrastruktur 5G memakai produk Huawei, pesaing mengklaim Huawei “bisa menyimak pesan yang dikirim melewati jaringan atau bahkan mematikan jaringan, yang pasti akanmengakibatkan gangguan serius”.

Bahkan sebelum Presiden Trump menerbitkan perintah eksekutif, pemerintah AS telah mendesak sekutu mereka guna tidak memakai produk Huawei.

Seruan ini terfokus ke kumpulan yang biasa dinamakan “Lima Mata”, yang terdiri atas Amerika, Inggris, Kanada, Australia dan Selandia Baru.

Kelima negara itu mempunyai kerja sama intelijen yang paling erat dan berbagi informasi rahasia, tidak jarang kali secara elektronik.

Washington menakut-nakuti akan berhenti berbagi informasi rahasia andai jaringan di Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru memakai peralatan 5G produksi Huawei.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengatakan andai ada negara yang menggunakan produk jaringan 5G produksi Huawei, maka, “Kami tak bakal lagi menyalurkan informasi.”

Huawei, di sekian banyak  kesempatan, menampik tuduhan mengerjakan mata-mata guna pemerintah China.

Namun mereka yang mengkritik menuliskan undang-undang di Cina tidak memungkinkan perusahaan dapat menolak permintaan pemerintah menemukan informasi intelijen.

Kekhawatiran pemerintah mengakses data perusahaan, antara beda didasarkan pada praktik yang berlaku di AS sendiri.

Mantan kontraktor Badan Keamanan AS, NSA, Edward Snowden, mengungkapkan bahwa badan-badan intelijen AS meretas data kepunyaan perusahaan teknologi tergolong Google dan Yahoo.

Di luar kepentingan keamanan, pastinya ada deviden bisnis bila tidak sedikit negara memboikot perlengkapan 5G dari Huawei.

2. Skandal robot jari

Kasus ini berhubungan dengan pegawai Huawei yang dituduh menculik robot jari, robot yang bertugas mengetukkan jari ke layar telepon genggam ketika ia meninggalkan laboratorium desain perusahaan telekomunikasi T-Mobile.

Pegawai ini mengklaim bahwa robot tersebut “tak sengaja jatuh ke dalam tasnya”.

T-Mobile ketika tersebut memang punya kerja sama dengan Huawei. Perusahaan Jerman itu tidak menerima dalil itu dan membawa kasusnya ke pengadilan.

Komunikasi email mengisyarakatkan pegawai tersebut “tak beraksi sendiri dan besar bisa jadi diperintah oleh eksekutif senior di Cina”.

Ini menjadi salah satu dalil penangkapan direktur finansial Huawei, Meng Wanzhou, di Kanada atas permintaan AS tahun lalu.

3. Kerja sama ‘terselubung dengan Iran’

Meng menampik tuduhan dan berupaya supaya permintaan ekstradisi oleh AS dibatalkan.

Tuduhan beda yang dijatuhkan kepadanya ialah Huawei “punya kerja sama dengan Iran”.

Diduga ia menjadi unsur dari upaya Iran menghindari sanksi AS, melewati perusahaanmempunyai nama Skycom.

Ia didakwa berdusta kepada bank-bank dan pemerintah AS mengenai kerja sama dengan Iran.

Meng, anak wanita pendiri Huawei, menampik tuduhan ini.

Ia dapat dihukum penjara maksimal 30 tahun andai diekstradisi dan ditetapkan bersalah oleh pengadilan di AS.

4. Kasus layar telepon antipecah

Kasus beda yang menciptakan AS cemas bersangkutan dengan “layar antipecah”.

Berdasarkan keterangan dari Bloomberg, Huawei diselidiki oleh FBI karena diperkirakan melanggar regulasi perniagaan senjata internasional.

Kasus ini bermula ketika perusahaan Akhan Semiconductor mengerjakan pembicaraan dengan Huawei guna memasok layar super kuat, yang diciptakan dengan menempelkan lapisan permata artifisial pada layar.

Sampel layar ini dibalikkan Huawei sejumlah bulan berikutnya dalam suasana rusak parah.

FBI mengasumsikan Huawei membawa sampel ini ke luar Amerika, praktik yang dilarang oleh regulasi internasional sebab sampel ini berpotensi dimanfaatkan guna pengujian senjata laser.

Huaweri, lagi-lagi, menampik tudingan FBI.

5. Tidak terdapat matinya

Meski didera sejumlah kasus, diperbanyak dengan tahapan Google, Huawei diduga akan tetap menjadi pemain global yang penting,

Bagi tidak sedikit negara, khususnya di Asia dan Afrika, harga produk teknologi yang ditawarkan Huawei jauh lebih murah dari perusahaan Amerika dan Eropa. Aspek harga inimemastikan Huawei bakal tetap menguasai pangsa global.
Image caption Penjualan Huawei terus tumbuh di semua area penting.

Bahkan di Inggris, sekutu terdekat AS, masih terjadi debat apakah usahakan infrastruktur 5G menggunakan produk Huawei.

BACA JUGA : Teknologi Informasi dalam bidang pertanian

0 komentar:

Posting Komentar