Senin, 27 Mei 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | teknologi informasi ancaman contohnya

TEKNOLOGI INFORMASI | Kelihaian ISIS Tebar 
Jejak Digital guna Bentuk Kekhalifahan

ISIS terdaftar sebagai kumpulan jihad yang dirasakan paling lihai memakai media sosial guna menyebarkan ideologi mereka. Mereka pun dirasakan mempunyai jejak digital terbanyak.

Sepanjang 2014-2015 ketika kumpulan ini sukses menduduki mayoritas Irak dan Suriah, mereka kerap memenuhi media sosial dengan video yang mencerminkan perjuangan semua pejuang negara islam itu. Mereka pun kerap menciptakan video saat mereka mengeksekusi tentara kafir dan penduduk sipil.


TEKNOLOGI INFORMASI Mereka sempat menciptakan video saat seorang tentara Suriah dihancurkan dengan suatu tank, seorang pilot Yordania dihanguskan hidup-hidup dalam kerangkeng, pemenggalan, dantidak sedikit rekaman kekejaman ISIS lainnya bakal tetap menjadi unsur dari cerita tragis kemanusiaan.
"(Ingatan) tersebut jelas bakal melekat dengan kita, sama laksana bagaimana Al-Qaeda bakal terus bareng kita, bahkan sesudah Osama bin Laden terbunuh," jelas Charlie Winter, peneliti senior di Pusat Internasional guna Studi Radikalisasi (ICSR) di King's College London untuk AFP.

Saat ini, mesin propaganda yang dulu sempat sangat modern itu sudah menjadi puing-puing. Meski dominasi mereka sekarang tumbang, tetapi jejak video-video eksekusi mereka ini bakal terus menghantui cerminan dunia dan menjadi cerminan bagaimana menebar teror lewat media ini dapat menjadi begitu efektif, lanjutnya.

Kelompok ini bukan yang kesatu memakai media digital sebagai perangkat propaganda mereka. Cara ini sempat dipakai oleh Al-Qaeda saat mereka menyangga jurnalis AS Daniel Pearl di Karachi pada 2002. Para saudagar kartel obat-obatan di Meksiko pun kerapmenyalurkan video pemenggalan kepala yang mereka lakukan.
Namun, ISIS dirasakan sebagai kumpulan yang sukses mempopulerkan grafis teror video. Mereka menciptakan klip bergaya Hollywood. Mereka pun memanfaatkan tidak sedikit media sosial laksana Facebook, Twitter, YouTube serta Telegram guna meraih tidak sedikit pemakai internet.

"ISIS juga tidak sedikit menginvestasikan waktu, energi, dan sumber daya insan untuk memproduksi propaganda ini lebih dari kumpulan lain sebelumnya," jelas Winter.


"Mereka ialah pionir dalam hal menambah dan mengindustrialisasi buatan propaganda."
Analis menyebut bila kelompok ini paling andal memanfaatkan media sosial guna memupuk radikalisme untuk ribuan pemuda Muslim di semua dunia. Mereka mengerjakan pencitraan sebagai pasukan yang tak terkalahkan di medan perang.

Untuk memperluas cakupan penontonnya, mereka sering mendompleng tagar-tagar yang tengah populer di media sosial. Contohnya mereka ikut memenuhi konten saat Piala Dunia 2014 digelar, atau saat Justin Bieber sempat menjadi tren tagar populer.

Baca : WhatsApp: Pembatasan video dan potret di media sosial 'tak
 efektif' sebab pemakai gunakan VPN

Disisi lain, ISIS pun memproduksi kehidupan kekhalifahan yang lebih lembut. Namun, analis memandang bahwa video dan konten web yang diproduksi ISIS ialah video pemimpi belaka.

"Mereka mengupayakan menunjukkan bahwa mereka membina negara utopia, masyarakat utopia," jelas Marc Hecker, berpengalaman kebijakan luar negeri di Institur Perancisguna Masalah Internasional untuk AFP.
Pemuda, lini terdepan propaganda

Para pejuang ISIS pun kerap menjadi garda propaganda terdepan. Mereka kerap mengerjakan swafoto dengan seringai dan menggengam bedil di dada.

Direktur Studi Keamanan Internasional di RUSI Raffaello Pantucci menyebut bila kegiatan komunikasi eksternal ISIS dilaksanakan oleh anak-anak berusia dua puluh tahunan. Dalam pekerjaannya mereka mengerjakan hal-hal yang biasa mereka kerjakan di rumah. Hal ini seperti dilaksanakan seorang peretas muda asal Inggris yang tewas di Irak, Junaid Hussain.

"Tidak terdapat yang spesial yang mereka lakukan," jelas Pantucci.

Namun, pekerjaan media sosial mereka berikut yang lantas disasar oleh AS. Dalam serangan udaranya, AS membunuh juru bicara ISIS Abu Mohamed al-Adnani di Suriah unsur utara pada Agustus 2016. Serangan beda ditujukan pada pusat medianya di kota Mosul di Irak.
Di bawah desakan pemerintahan Barat, Facebook dan Twitter pun meredam konten-konten yang mempropagandakan semua jihadis. Mereka pun membuat filter guna video kekerasan yang diciptakan ISIS dan kumpulan teror lain, sampai-sampai mereka kendala membuat video itu meraih lebih tidak sedikit massa.

Belakangan, ISIS memakai dark web dan Telegram guna mendorong semua pendukung merekasupaya melakukan serangan mandiri. Dark web ialah bagian dari internet yang harusmasuk dengan teknik khusus dan nyaris tidak barangkali diregulasi.

Sebuah riset pada November dari Pusat Studi Strategis dan Internasional, kumpulan cendikiawan berbasis di Washington menyebut bila kelompok tersebut mempertahankan kekhalifahan digital untuk menyokong pemberontakan di negara-negara lain.

Winter memandang bahwa teknik propaganda ISIS ini dapat memberi akibat pada bagaimana penentangan jihadis secara global akan dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang.

Baca Juga : Ekonomi Inklusif di Era Industri 4.0


0 komentar:

Posting Komentar