Sabtu, 25 Mei 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | teknologi informasi 2014


     Merespons aksi massa 22 Mei 2019 bersangkutan pemberitahuan hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, pemerintah mengerjakan pembatasan pemakaian internet, terutama media sosial dan software pesan instan. Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto menegaskan pembatasan dilaksanakan “semata-mata demi ketenteraman nasional”. Pemerintahcemas hoaks yang yang sering menyebar lewat media sosial dan software pesan bakal memperburuk situasi. Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang mengerjakan pembatasan internet atau akses terhadap media sosial untuk meredam gelombang aksi massa.


TEKNOLOGI INFORMASI - Pada 2014, atas kudeta yang dilakukan, militer Thailand menutup akses terhadap Facebook untukmenahan protes masyarakat. Empat tahun berselang, pada 2018, pemerintah Bangladesh mematikan internet berhubungan aksi mahasiswa yang memprotes sistem keselamatan jalan, yang dirangsang tewasnya seorang remaja sebab tertabrak bus. Di Indonesia, keputusan pemerintah yang lumayan tegas itu direspons dengan keluhan via Twitter. Dalam platform microblogging itu, protes sukarnya mengakses media sosial digaungkan dengan tagar #WhatsAppDown dan #InstagramDown. Guna mengakali kepandaian pemerintah, sejumlah netizen menggaungkan pemakaian Virtual Private Network (VPN). Secara sederhana, VPN adalahsuatu koneksi privat yang berlangsung di atas koneksi publik yang disediakan oleh perusahaan provider internet.

Baca Juga : Masuki Era Revolusi Industri 4.0? Kementan Siap!

     VPN menanam server beda antara perlengkapan yangdipakai pemakai internet guna terhubung ke sebuah layanan internet, dengan serverlokasi layanan internet bersemayam. VPN merupakan man-in-the-middle antara pengakses internet dengan server tujuan. Berdasarkan keterangan dari data yang diluncurkanStatista, pada 2015, 27 persen pemakai internet dunia memakai VPN guna mengakseswebsite yang ditutup oleh pemerintah. Pada 2018, Indonesia dan India adalahnegara dengan pemakaian VPN terbesar di dunia. Sebanyak 38 persen populasi penduduk pengakses internet di kedua negara tersebut memakai VPN. Persentase ini lebih tinggidikomparasikan rata-rata regional. Di Asia Pasifik, misalnya, melulu 30 persen populasi pengakses internet memakai VPN. Di Eropa, melulu 17 persen populasi pengakses internetmemakai VPN.

Baca Juga : Huawei Dilarang Amerika, Berakhirlah Teknologi Global 

     Munculnya negara Asia dan regional Asia Pasifik sebagai distrik terbesarpemakaian VPN berhubungan erat dengan galaknya pemerintah di regional ini dalam memberi batas akses internet. Berdasarkan keterangan dari VPN Mentor, 10 negara sangat kuatmengerjakan sensor internet ialah negara-negara dari regional Asia Pasifik, dengan Korea Utara sebagai yang terdepan. Di toko software Play Store, tidak sedikit VPN guna ponsel ditawarkan. Misalnya Turbo VPN, Hola VPN, dan VPN Hub. Hingga kini, Turbo VPN dan Hola VPN sudah dipasang pada lebih dari 50 juta perangkat. VPN Hub, yang berhubungan dengan Pornhub, sudah dipasang pada lebih dari lima juta perangkat. Di samping memanfaatkan VPN guna lolos dari sensor internet, pemakai internet pun dapat memanfaatkan DNS recursor atau recursive resolver. Dalam keterangan sederhana, DNS recursor ialah perantara antara klien (pemakai internet) dengan server nama DNS. Atau,saat pemakai berkeinginan mengunjungi Facebook, komputer atau ponselnya perlu tempat server Facebook berada. DNS recursor menjadi teknologi yang memberitahu komputer/ponsel klien tentang tempat di mana Facebook berada. DNS recursor sangat populer yang dapat dimanfaatkan merupakan 1.1.1.1, dipunyai oleh Cloudflare. Klaim Cloudflare, 1.1.1.1mampu melayani permintaan akses dari pemakai internet dalam tempo 14,3 milidetik. Iamengalahkan layanan sejenis dari Google (34,2 milidetik) dan OpenDNS (22,2 milidetik). Mengapa 1.1.1.1 dapat melayani dengan cepat? Cloudflare adalahpemain content delivery network (CDN) besar dunia. CDN, secara sederhana, menyerahkan layanan back-up atausalinan atau mirroring konten-konten internet dari sekian banyak  perusahaan internet. Dicatat oleh SimilarTech, terdapat 13 juta domain di semua dunia yang memanfaatkan Cloudflare. Posisi ini sanggup menyerahkan 1.1.1.1 kekuatan untuk pemakainya akses cepat ke tujuan. Di samping menggaungkan VPN, netizen pun menganjurkan pengalihansedangkan dari WhatsApp mengarah ke Telegram. Jika WhatsApp sering dirudung masalah privasi, Telegram sebaliknya. Meskipun WhatsApp telah memakai end-to-end encryption, Telegram adalahsalah satu software pelopor fitur ketenteraman ini. Artinya, pesan dalam teks biasa yang dikirim akan diolah menjadi kode-kode enkripsi dan hanya dapat dibaca atau didekripsi oleh akun yang dituju. Enkripsi Telegram paling sulit untukdimasuki peretas. Pada 2014, Telegram menciptakan kontes berhadiah 300 ribu dolar AS, menantang semua peretas untuk merombak enkripsi Telegram.

Baca Juga : Indonesia pemain utama teknologi informasi

     Tidak terdapat satu juga peretas yang sanggup. Pavel Durov, pencipta Telegram, menyinggung keseriusan Telegramberhubungan privasi berawal dari empiris represi pemerintah Rusia terhadap dirinya. “Beberapa tahun kemudian saya bermukim di Rusia. Segala komunikasi berbasis pretext (teks) yang kami kerjakan dimonitor, dan terkadang pemerintah memanfaatkan untukmengurangi kami,” kata Durov, untuk CNN. Karena familiar dengan keamanannya, Telegram populer dipakai penjahat, terorisme, sampai kelompok kekerasan guna mengorganisir diri. Namun, Durov menegaskan bahwa teknologinya tidak semestinya serta-merta dikaitkan dengan pemakaian yang menyimpang. “Mereka [penjahat] pun menggunakan iPhone, Android, dan microchip. Hal mengherankan jika melulu kami yang disalahkan. Juga, kita tidak akan dapat membuat teknologi perpesanan yang aman untuk semua orang, kecuali pada orang-orang tertentu,” urai Durov. Tapi, benarkah pemakaian VPN dan Telegram aman? Dalam paper berjudul “A Survey report on VPN Security and Its Technologies” yang digagas Jayanthi Gokulakrishnan, sebenarnya ada cukup tidak sedikit celah VPN disusupi peretas. Beberapa di antaranya merupakan VPN Hijacking dan man-in-the-middle attack. Pada VPN Hijacking, peretas mengerjakan serangan brutal, memungut alih VPN dan dari sana menggunakannya untuk menculik informasi pemakai. Pada modus man-in-the-middle attack, yang dilakukan ialah pencegatan atau intercept jalur komunikasi VPN.

Baca Juga : Gunadarma pulang cetak ?doktor di bidang teknologi informasi

     Muhammad Ikram dalam paper “An Analysis of the Privacy and Security Risks of Android VPN Permission-enabled Apps” mengaku bahwa 18 persen dari VPN yang ditelitinya tidakmemakai enkripsi. Lantas, lebih dari 60 persen VPN tidak memakai teknologi IPv6. Akibatnya, tidak terlampau sukar untuk peretas mengerjakan serangan man-in-the-middle. Ikram melanjutkan, semenjak Android versi 4.0 keluar, pencipta VPN bermukim meminta izin pemakai memanfaatkan faedah BIND_VPN_SERVICE di ponsel. Sialnya, tatkala faedah tersebut diberikan, software VPN dapat mengambil alih kendali segala lalu-lintas data. Jika VPN yang dipasang melulu sebagai kedok pihak tak bertanggung jawab, ini bermasalah. Laporan “For Your Eyes Only? Ranking 11 Technology Companies On Encryption And Human Rights” (2016) yang diterbitkan Amnesty International mengaku bahwa software pesan instan dari Facebook—Facebook Messenger dan WhatsApp—menjadi software dengan peringkat terbaik. Amnesty International memberi Facebook Messenger dan WhatsApp skor 73 dari 100,mengalahkan Telegram (67/100). Lantas, pada 2017, BuzzFeed merilis laporan intelijenmengenai hubungan Donald Trump dengan Rusia. Yang menarik, hubungan Trump-Rusia terbongkar melewati bocoran dari hasil mata-mata pada software Telegram, bukansoftware perpesanan lain.

0 komentar:

Posting Komentar