Selasa, 14 Mei 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi radio

Teknologi Informasi | Syiar lewat Siaran Radio

”DARI Kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Radio Dakwah Islammengangkasa di frekuensi 107.9 FM. Dengan jargon "Dais Terdepan dalam Dakwah dan Nada". Begitulah sapaan pendahuluan yang khas di telinga pendengar setia Radio Dais.

Radio Dakwah Islam Masjid Agung Jateng, lebih dikenal dengan Radio Dais MAJT telah mengangkasa sejak diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Mardiyanto 23 September 2006. Keberadaan stasiun radio yang bertempat di Jl Gajah Raya Kawasan MAJT dirancang sebagai ruang publik, sarana edukasi dan wahana dakwah untuk umat Islam di Jawa Tengah.



Teknologi Informasi - Radio Dakwah Islam muncul dengan program siaran yang menarik. Di antaranya kajian kitab, memutarkan lagu pop religi, nasyid dan kasidah yang telah berjalan sekitar 13 tahun. Radio Dais memang diperuntukkanguna dakwah Islam terutama masyarakat di dekat MAJT. "Kami bercita-cita radio yang mendengungkan Islam Nusantara ini bakal tetapmengangkasa dan berkembang menjadi radio komersial sampai-sampai jangkauannya dapat dinikmati oleh masyarakat Jawa Tengah pada terutama dan masyarakat Indonesia pada umumnya," ucap Ketua Dewan Pelaksana Pengelola MAJT, Noor Achmad, Rabu (8/5).

Dakwah yanng dikembangkan ialah dakwah Islam yang wasatiyah, Islam yang damai, Islam yang rahmatan lil alamin. Oleh sebab itu, sarana dakwahnyadapat bermacam-macam laksana dialog, ceramah, musik serta siaran langsung bacaan alquran. Kemudian, kajian buku yang disiarkan langsung dari MAJT atau khutbah. "Biasanya tayangan langsung khutbah pengajian baik pengajian buku fikih dan kajian-kajian lainnya. Dari situ kami bercita-cita apa yang telah dilaksanakan di MAJT disiarkan langsung Radio Dais," ujarnya.

Noor Ahmad masih memandang radio sebagai di antara sarana yang efektif dalam mengucapkan dakwah untuk masyarakat. Gempuran media sosial ketika ini begitu masif, tetapi demikian radio masih mempunyai tempat di hati penggemarnya. Meski begitu, ketika ini sulit menggali radio yang konsisten di bidang dakwah. Radio Dais menjadi radio pilihan yang konsisten dalam menyampaikan doktrin Islam yang wasatiyah yang sapat merangkul seluruh kalangan. Kelahiran Radio Dais seolah menjadi corongpaparan visi tujuan MAJT di samping MAJT TV dan buletin MAJT.

Radio Dais menjadi di antara radio yang konsisten dan mengutamakan diri menjadi radio yang senantiasa menggaungkan dakwah. Konsistensi paparan dakwah cocok visi MAJT guna kemakmuran umat Islam menjadi dalil eksistensi Radio Dais. Di samping itu, radio ini pun menjadi sarana mengajarkan mengenai Islam Nusantara, dan ahlu sunah wa jamaah. "Kamibercita-cita masyarakat tidak boleh sampai kemasukan paham radikal. Intinya, apapun media yang efektif dipakai untuk berdakwah bakal kami pakai, sampai ketika ini peminat Radio Dais paling luar biasa," cerah Noor Ahmad.

Baca Juga : Transformasi Digital Menu Wajib Mahasiswa

Memasuki Ramadan, Radio Dais memiliki sejumlah program eksklusif yang lebih intensif. Di antaranya pengajian menjelang berbuka, menjelang sahur,sesudah sahur. Di antara pengisi kajian fikih antara beda KH Ahmad Hadlor Ikhsan, KH Adib Zamroni, Habib Jakfar Al Musawwa dan lain-lain. "Setiap bakda maghrib tidak jarang kali ada tanya jawab soal fiqih padalazimnya soal keislaman," jelas dia.

Rencananya, Radio Dais akan mengerjakan sejumlah transformasi dengan menggandeng Radio Gaul FM. Sehingga, dengan menggandeng radio komersial Radio Dais bisa memperluas cakupan jaringannya. "Konten program bakal kami sesuaikan dengan keperluan generasi muda mencakup penataan manajemen atau teknik berkomuniakasi antara pendengar dan pihak radiokhususnya pendengar generasi muda," katanya.

Rasika

Radio Rasika 105.6 FM pun adalahradio dakwah. Berkantor di Jl Semangka, No 7, Ungaran mereka terus berinovasi. Seperti mengembangkan audio visual sebagai akibat dari pertumbuhan atau perubahan media. Direktur Radio Rasika, H Hasanudin mengatakan, pendengar radio jasmani semakin hilang. Saat ini tidak semua lokasi tinggal mempunyai radio.

Karena masing-masing orang di lokasi tinggal telah mempunyai gawai dengan fitur menyeluruh untuk memperhatikan siaran. "'Gambar tersebut memaksa orang untuk memperhatikan Radio Rasika melewati gadget. Jika pada saat tersebut radio melulu menampilkan suara saja. Tetapi Rasika FMmemperlihatkan suara dan gambar," ujarnya.

Radio visual audio adalahperkembangan baru dari teknologi. Tak melulu menampilkan suara tetapi pun gambar nyata dari sebuah kejadian. Semisalandai terjadi kemacetan di sebuah lokasi, masing-masing orang dapatmenyaksikan secara langsung kejadian tersebut melalui gambar. Rasika FMberkolaborasi dengan Dinas perhubungan (Dishub) untuk menyerahkan pelayanan gambar mengawasi area Semarang. Sehingga orang bisa percaya bahwa itu ialah gambar nyata. Agar menarik, Rasika FM juga mengemas suara dalam format drama. "Selama bulan Ramadan ini, Rasika FMmenciptakan sandiwara radio religi guna mengeksplorasi suara agar dapatmenggambarkan perasaan. Ada senang, sedih, susah, kecewa marah dan sebagainya,” imbuh Hasanudin.

Penyiar Radio Rasika 105.6 FM, Haris Widi mengatakan, Radio Rasika FM adalahradio bernuansa religi untuk generasi milenial. Penerapanya tidakmelulu audio namun lebih visual dan interaktif. Dikatakan interaktifsebab pendengar setia Radio Rasika FM bisa saling berkomunikasi guna berbagi potret maupun video peristiwa. Adapun pekerjaan dakwah dalam Radio Rasika FM berupa acara buka bareng dengan pendengar, adzan lima waktu, Tartil Quran, Kajian Hadis, Istighosah rutin masing-masing Jumat di studio on air. Serta masing-masing pagi, siang dan malam ada istighosah dan pengajian. Selain tersebut ada pun jurnal informasipekerjaan religi serta sandiwara radio religi berupa penjabaran hadis dikemas dalam format drama kehidupan.

Rekaman Pengajian

Berdasarkan keterangan dari Haris, sandiwara radio religi sudah disiapkan jauh-jauh hari sebelum menjelang Ramadan. Sandiwara religitersebut berupa berisi mengenai kisah-kisah kehidupan inspiratif. Pada akhir kisah itu selalu memperlihatkan hadis-hadis pilihan. Misalnya sandiwara istri yang solehah, tiga puluh menit saja, dan indahnya berkah keikhlasan. "Bahkan dengan informasi yang disiarkan Rasika dapatmenyebabkan ribuan orang. Dalam jurnal pekerjaan Al- Hikmah terdapat 12hingga 20 kegiatan. Kegiatan tersebut sedikitnya dihadiri 500 hingga 1.000 orang menghadiri pekerjaan keagamaan, sebab mendapat informasi dari Rasika. Kalau pekerjaan besar hingga 60 ribu orang," ungkapnya.

Di Kabupaten Rembang, Radio Yespeace menjadi di antara radio komunitas diwilayah ujung unsur timur laut Provinsi Jawa Tengah ini. Yespeace menjadikan dakwah sebagai brand-nya. Pada momentum Ramadan 1440 Hijriah ini, sajian dakwah radio yang identik dengan paham ahlussunah wal jamaah annahdiyiah itu semakin kental. Sedikitnya terdapat tiga program dakwah yang masing-masing hari tersaji secara rutin sekitar Ramadhandilangsungkan tahun ini. Pertama ialah kajian Kitab TaĆ­limul Muta’alaim yang disiarkan secara langsung sekitar 2,5 jam, mulai pukul 07.00 WIB. Pengakajinya ialah KH Kholid Mawardi, dengan jamaah pengajian dari kalangan santri MA YSPSI dan masyarakat sekitar. Setelah tersebut ada sajian rekaman pengajian Kitab Tafsir Jalalain dari ulama sepuh NU, KH Maimun Zubaer.

Khusus ini, bahkan pengelola radio izin untuk Mbah Mun untuk dapat mendapatkan hak menyiarkan rekord pengajian secara resmi. Direktur Radio Yespeace, KH Muhtar Halim mengatakan, brand dakwah dipungut sebagai salah satu teknik mengedukasi masyarakat, terutama kalangan muda, mengenai kajian-kajian ubudiyah ala ahlussunah wal jamaah. Selama ini, kajianmelewati media lainnya, laksana televisi telah terlalu lazim. Sehingga, radio menjadi di antara pilihan di tengah membanjirnya media. "Saat Ramadhan ada pun sajian Kuliah Tujuh Menit (Kultum) menjelang masa-masa berbuka, yang membicarakan masalah-masalah keagamaan di masyarakat, kebetulan saya pengampunya. Kami sengaja membuat brand radio dakwah ala ahlussunah wal jamaah," cerah Muhtar.

Baca Juga : Gelap Terang Nasib Industri 4.0 di Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar