Selasa, 14 Mei 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi pembelajaran

Teknologi Informasi | Transformasi Digital 
Menu Wajib Mahasiswa

Perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin cepat inginkan tidakinginkan harus diimbangi dengan ketersediaan sumber daya insan (SDM) yang handal pula. Jika tidak, bukan tidak barangkali akan tersingkir darikompetisi global.

Terutama di era revolusi industri 4.0 ini, di mana pertumbuhan teknologiberlangsung dengan cepatnya. Kondisi ini pun merangsang dan dominan  pada edukasi di Indonesia. Bagi menyiapkan generasi yang dapat menghadapi tersebut semua, kampus juga mulai berlomba-lomba merangkai strategi.

Mulai dari kurikulum berbasis teknologi digital sampai membuka jurusan-jurusan baru. Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Panut Mulyana mengatakan, tidak dapat dipungkiri bahwa di era revolusi industri 4.0 ini, kalangan akademisi mesti menyiapkan semuanya dengan baik.


Teknologi Informasi - Akademisi, ujarnya, mesti menyesuaikan diri dengan pertumbuhan era industri 4.0 ini. UGM pun, ungkapnya, pun telah menyiapkan diri guna menghadapi kendala global yang kian ketat ini. Di antaranya dengan menyiapkan program edukasi khusus, yakni menjadikan kuliah transformasi digital (big data, internet optic, bahasa pemograman, dan coding) menjadi kuliah mesti yang mesti dibuntuti seluruh mahasiswa di UGM.

“Era digital ini, empat urusan itu, (big data, internet optic, bahasa pemograman, dan coding) menjadi urusan penting. Sehingga mahasiswa mestimenguasainya,” ungkapnya.

Meski demikian, menurut keterangan dari Panut, UGM tidak menciptakan program studi yang spesifik. Namun lebih memperkaya program studi (prodi) dengan mata kuliah yang menyerahkan warna dan keperluan saat ini. Sebab,andai dengan menciptakan prodi spesifik, maka malah malah mempersempit ruang pembelajaran. “Prodi baru yang spesifik punya kelemahan, yakni bahwa ilmu yang didalami terlampau sempit, sampai-sampai tidak baikguna S1 yang mesti tahu banyak. Meski begitu, urusan sepesifik guna era ketika ini laksana big data, coding,internal optic, dan bahasa pemograman pun harus tahu secara umum,” tandasnya.

Karena itu, UGM menyesuaikan konteks pembelajaran lebih kepada penilaian kurikulum. Apalagi, nama prodi tidak saja mengikuti tren dunia semata, namun pun harus mempunyai standar. Seperti di engineering, UGM mestimelewati akreditasi internasional, di mana nama prodi tersebut dapat diakrediasi dan telah ada daftarnya.

“Prodi yang lebih spesifik tetapi tidak mengekor tren dunia, keterakuan di dunia internasional, maka bakal sulit. Jadi, lebih baik nama prodimengekor tren dunia namun kontennya tidak ketinggalan,” paparnya. Rektor Insititut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Prof Dr Ir Mochamad Ashari mengatakan, ada tidak sedikit pekerjaan yang mesti dilaksanakan perguruan tinggi untuk dapat mencetak alumni yang bermutu.

Salah satu konsentrasi yang hendak dikembangkan alumni ITS dengan terjun dan partisipasi dalam bidang pertambangan di Indonesia. “Selama ini ITS punya SDM yang kompeten di bidang pertambangan, terdapat jurusankiat geofisika dan kiat geomatika yang dapat menyerahkan sumbangsih teknologi dan inovasi di bidang ini secara berkelanjutan,” kata Ashari.

Baca Juga : Isu Agar Facebook dkk Dipecah Makin Kuat di AS

Dua jurusan itu, katanya, memang tidak tidak sedikit di Indonesia. Kesempatan untuk para mahasiswa untuk dapat berkembang di dunia pertambangan dapat terus diproduksi. Apalagi, potensi pertambangan di dunia masih lumayan luas dan dapat memberikan andil untuk bangsa iniguna terus berkembang. Doktor alumni Curtin University Australia ini menambahkan, pihaknya juga hendak ITS menjadi research and innovative university.

“Jadi, saat mahasiswa lulus, anda targetkan guna dapat memenuhi sumber daya di Indonesia tergolong di industri, pimpinan di lembaga, di kementerian, dan seterusnya. Kami hendak menghasilkan inovasi-inovasi yang berguna untuk bangsa Indonesia,” tandasnya. Bahkan, ITS membina Science Techno Park (STP) cocok yang ditargetkan oleh Kemenristekdikti.

Targetnya ialah 100 STP dan ketika ini ITS telah berjalan membina STPitu dan bakal lebih diintensifkan di lima tahun ke depan nantinya. ITS, lanjutnya, pun mendorong mahasiswa guna menghasilkan inovasi. Karena itu, ITS bakal menyesuaikan kurikulum nantinya. Terlebih ketika iniseluruh universitas di Indonesia sedang menghadapi semua mahasiswa generasi milenial dan kendala baru di era revolusi industri 4.0.

“Kebutuhan sumber daya insan di bidang industri ketika ini lebihmenggali dan mengkhususkan orangorang yang inovatif dan ITS hendak mendorong mahasiswanya ke arah tersebut,” paparnya.

Rektor Universitas Airlangga (Unair) Prof Nasih mengatakan, pada era disrupsi teknologi dan industri 4.0, mesti dicerna secara menyeluruhuntuk kampus-kampus negeri. Termasuk Unair yang sekitar ini tidak sedikit menelorkan alumni di bidang kesehatan. Ke depan, akan tidak sedikit tantangan yang mesti disiapkan dengan baik. Salah satunya adanyakepintaran buatan, pengembangan nanotechnology, big data, hingga internet of thingsyang mesti direspons dengan baik oleh Unair.

“Kami mesti punya penyelesaian untuk mengabungkan physical domains, digital, dan biology,” kata Nasih. Makanya, opsi yang dapat dikembangkan Unair menjadi kampus pusat pengembangan peneliti kesehatan.

Baca Juga : Teknologi Jadul yang Nyaris Punah Ini Patut guna Dikenang

Pihaknya juga diuntungkan dengan mempunyai rumah sakit pendidikan,lokasi tinggal sakit gigi dan mulut, pusat riset penyakit tropis, sertalokasi tinggal sakit hewan. Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung Arry Bainus mengatakan, kampusnya telah mulaimerangkai program studi kekinian guna menghadapi era revolusi industri 4.0.

“Sejak 2017, kami sudah menciptakan prodi kekinian. Misalnya berhubungan bisnis digital, pemasaran digital, dan lainnya. Kami pun membuka program vokasi D4, yang program studinya ditunjukkan untuk industri di daerah,” ungkapnya.

Salah satu program vokasi Unpad yang baru dibuka ialah agro teknopreneur. Prodi ini dicocokkan dengan potensi pertanian di Jawa Barat. Harapannya,tidak sedikit lulusan perguruan tinggi dapat mengelaborasi pertanian menjadi komoditi unggul dan bernilai ekonomi tinggi. “Ranah keilmuan jugadiciptakan tidak konvensional lagi, tetapi masing-masing mahasiswanya memiliki tidak sedikit pengetahuan keilmuan. Karena, kendala ke depan tidak hanya paham satu ilmu, tapi mesti paham seluruh ilmu,” tandasnya.

0 komentar:

Posting Komentar