Jumat, 10 Mei 2019

Teknologi Informasi | jurnal teknologi informasi 4.0

Teknologi Informasi | Gelap Terang Nasib 
Industri 4.0 di Indonesia

     Geger pembicaraan geliat industri digital di Indonesia tengah mengemuka, mulai dari gerakan boikot Bukalapak, sampai kontroversi perkataan capres Prabowo Subiantoberhubungan start-up unicorn dalam debat pemilu. Terlepas dari kontroversi yang ada, Indonesia sekarang sesungguhnya tengah berada pada masa persimpangan urgen bersangkutan perkembangan industri 4.0, utamanya pada e-commerce. Dalam lima tahun terakhir, perkembangan industri teknologi di Indonesia berkembangan dengan paling pesat. Sejumlah perusahaan rintisan atau start-up teknologi sukses melesat dan berkembang tidak hanya dari sisi pangsa pasar, bakal tetapi pun valuasi. Beberapa start-up bahkan sudah sukses mencapai valuasi lebih dari $1 miliar dolar Amerika Serikat atau kerap dinamakan unicorn. Pada November 2018, studi tahunan berjudul “e-Conomy South East Asia” oleh Google berkolaborasi dengan Temasek, suatu firma investasi asal Singapura, menyaksikan adanya perkembangan ekonomi internet yang meroket pada 2018.



Teknologi Informasi - Hal ini kemudian dominan pada prediksi keduanya. Jika pada 2016 dan 2017, Google dan Temasekmenebak ekonomi internet di Asia Tenggara akan menjangkau $200 miliar pada 2025, maka nilai ekonomi tersebut kini ditebak berkembang menjadi $240 miliar. Pertumbuhan ini didorong, terutama oleh perkembangan pesat dari industri e-commerce, media daring, travel daring dan ride hailing laksana taksi atau ojek online. Di manakah posisi Indonesia? Studi ini menunjukkan bahwa Indonesia bakal menjadi negara yang memimpinperkembangan tersebut. Dengan pemakai internet terbesar di Asia Tenggara sejumlah 150 juta pemakai di 2018, Indonesia mempunyai ekonomi internet yang terbesar denganperkembangan yang sangat cepat salah satu negara Asia Tenggara lainnya. Ekonomi internet Indonesia pada tahun kemudian ditaksir menjangkau $27 miliar, sedangkan lajuperkembangan majemuk tahunannya (CAGR) menjangkau 49 persen dalam periode 2015-2018. “Dengan potensi perkembangan yang besar di segala sektor, ekonomi internet Indonesiabakal bertumbuh menjadi $100 miliar pada 2025, memungut $4 dari masing-masing $10 pengeluaran di distrik tersebut,” tulis laporan tersebut. Dilansir Tech in Asia,perkembangan ini dapat terjadi sebab Indonesia mempunyai pertumbuhan ekonomi yanglumayan stabil selama 5 persen per tahunnya, seiring dengan menguatnya kekuatan ekonomiruang belajar menengah, tingginya penetrasi perlengkapan ponsel pintar danperkembangan volume transaksi duit elektronik. Bank Indonesia memang menulis jumlah transaksi duit elektronik di Indonesia terus meningkat. Pada 2011 nominal transaksiduit elektronik menjangkau Rp981 miliar, maka pada 2017 jumlah tersebut menjangkau Rp12,375 triliun. Pada 2018, jumlah ini meningkat menjangkau Rp31,6 triliun paling tidak sampai September tahun lalu.

Baca Juga : Cina Menciptakan Robot Penyiar Berita yang Mirip Manusia

      Signifikansi e-commerce Tidak bisa dipungkiri, Go-Jek adalahanak emas industri rintisan teknologi di Indonesia ketika ini. Di antara sebanyak start-up teknologi Indonesia yang lain, ia mempunyai nilai valuasi yang sangat mendekati decacorn atau perusahaan rintisan dengan valuasi $10 miliar. Namun, butuh diperhatikan, dari $16 miliar dana yang diinvestasikan ke sembilan perusahaan start-up terbesar di Asia Tenggara, perusahaan e-commerce memungut empat di antaranya. Dua dari empat perusahaan tersebut berasal dari Indonesia: Bukalapak dan Tokopedia. Masih dari laporan Google dan Temasek, Indonesia dalam sektor ini memimpin dengan pasar yang besar menjangkau $12,2 miliar pada 2018. Dengan total besar pasar e-commerce di Asia Tenggara menjangkau $23 miliar pada 2018, Indonesia berarti memungut sekitar lebih dari $1 dari masing-masing $2 pengeluaran di area ini. Laporan tersebut juga memprediksikan bahwa industri e-commerce pada 2025 nanti akan menjangkau angka $102 miliar, sangat tinggi dikomparasikan sektor lainnya. Industri travel daring sedangkan itu ditebak mencapai $78 miliar, ride hailing $28 miliar dan media daring (iklan daring, gaming, layanan berlangganan video serta musik) menjangkau $32 miliar. Accenture, perusahaan konsultasi bisnis, bahkanmenyerahkan perkiraan yang lebih “berani” bahwa besarnya pasar industri e-commerce Indonesia dapat berkembang dari $27 miliar pada 2018 menjadi $300 miliar pada 2025 dari $240 miliar yang diprediksikan Google dan Temasek. Namun, ada urusan yang perludijangkau terlebih dahulu supaya target tercapai. Seperti diadukan The Jakarta Post, Direktur Pelaksana Accenture, Mohammed Sirajuddeen, menuliskan Indonesia mesti dapat terlebih dahulu mengerjakan lompatan besar supaya ekosistem digital di negeri seutuhnya terintegrasi. “Ini berarti mengintegrasikan semuanya mulai dari ponsel, hiburan, transportasi, kesehatan, dan makanan Anda,” sebut Sirajuddeen. Dalam urusan ini, ia menjadikan Cina sebagai contoh. Sirajuddeen mengatakan, minimal ada empat pilar kunci yang mendukung industri teknologi di Cina: e-marketplaces, platform media sosial, platform pembayaran digital atau e-payment dan jaringan logistik. Ini yang telah terjadi di Cina. Mengutip Xinhua, di Cina, ekonomi digital berkontribusi selama 33 persen dari total produk dalam negeri bruto (PDB) negaranya pada 2017. Lebih lanjut, China Academy of Information and Communications Technology (CAICT), lembaga yang sedang di bawah Kementerian Industri dan Teknologi Informasi, menuliskan bahwa ekonomi digital Cinaketika ini berada pada besaran $2,32 triliun atau 38,2 persen dari PDB, meningkatdikomparasikan 2017.



Baca Juga : Wikipedia 'Gembok' Artikel Profil Capres dan Cawapres, Apa Alasannya?

     Tantangan Mendasar Berdasarkan keterangan dari Sirajuddeen, Indonesia telah mengisi semua prasyarat itu terkecuali pada sektor jaringan logistik. Indonesia mempunyai jaringan logistik yang masih buruk, khususnya di luar Pulau Jawa. Ini membuat ongkos logistik di Indonesia tergolong yang tinggi di kawasan. Sebagai contoh, ekspedisi satu galon air dari Jayapura ke Timika di Papua bakal menghabiskan ongkos Rp456.000 atau lebih mahal sebesar 40 persen dibandingkan ongkos pengiriman dari Jakarta ke Surabaya. Padahal jarak Jayapura-Timika ialah 450 kilometer sedangkan Jakarta-Surabaya 660 km. Namun, selain persoalan logistik, kesiapan konsumen terhadap sistem pembayaran digital di Indonesia pun turut menjadi di antara tantangan yang mesti segera dipecahkan solusinya. Ini diajukan oleh Managing Director Ipsos Indonesia Soeprapto Tan sejumlah waktu kemudian di Jakarta. Soeprapto memaparkan, dalam laporan teranyar Ipsosberhubungan industri e-commerce di Indonesia berjudul “E-commerce 4.0, What Next,” sebesar 26 persen dari konsumen pemakai e-commerce masih paling bergantung pada pembayaran manual melewati transfer di ATM. Pembayaran melaluii atau online payment,sedangkan itu, melulu mencapai persentase sebesar 19 persen. Padahal, industri 4.0 menuntut adanya integrasi lengkap antara sektor offline dan online dan pembayaran adalahsalah satu sektor yang memegang kunci urgen dalam pertumbuhan industri ini.

Baca Juga :  Pemindahan Ibu Kota Indonesia Harus Menerapkan Pemerintahan 4.0

     Ketua Asosiasi E-commerce Indonesia (IdEA) Ignatius Untung menuliskan bahwa supaya dapat tumbuh lebih cepat industri digital di Indonesia pun mengalami kelemahan sumber daya manusia, utamanya pada sektor teknis laksana software engineer. Untung menuliskan, pada start-up dengan gelar unicorn laksana Go-Jek saja, misalnya, diperlukan sekitar 1.000 tenaga aplikasi engineer. Ini lantas tidak seimbang dengan jumlah sumber dayainsan software engineer yang diproduksi oleh universitas-universitas di Indonesia. “Kalau dikomparasikan lulusan satu angkatan satu universitas saja, kayaknya enggakhingga 1.000,” jelasnya. Namun demikian, Soeprapto optimistis bahwa bakal prospek industri digital di Indonesia berkaca dari perkembangan industri ini dalam sejumlah tahun terakhir yang stabil di kisaran dua digit atau di atas 10 persen. Dengan catatan, lanjutnya, industri ini didukung oleh regulasi yang tepat, sumber daya insan dan infrastruktur yang mumpuni. Dengan data yang ada ketika ini, ia memprediksikan bahwa andai industri 4.0, tergolong e-commerce 4.0, bisa terimplementasikan di Indonesia dalam kurun masa-masa lima tahun ke depan. “Kuncinya digitalisation tersebut terjadi,” sebut Soeprapto untuk Tirto. “Kalau digitalisation tidak terjadi, tersebut agak susah,” tambahnya.

0 komentar:

Posting Komentar