Selasa, 02 April 2019

Teknologi Informasi unila



Teknologi Informasi - Apakah Humas dapat digantikan robot dan artificial intelligence nantinya?” Seorang peserta bertanya dengan nada cemas dalam suatu diskusi di Banda Aceh sejumlah waktu lalu.
Di tengah serbuan teknologi, tidaklah heran andai kekhawatiran itu muncul. Peran insan akan berkurang, bahkan digantikan Artificial Intelligence dan robot tergolong profesi hubungan masyarakat atau public relations (PR).
     Kenyataannya, kita sudah berada era Industri 4.0! Era yang sudah mendisrupsi bukan hanya tatanan proses bisnis yang ada, tetapi pun peran profesi di dalamnya, mulai dari sales, operation, marketing, keuangan, jurnalisme dimana robot sudah dapat menulis berita sendiri, sampai dunia public relations.
Kita ketahui bahwa ini bukan kesatu kali era industri dunia berevolusi. Di akhir abad ke-18, kita sudah mengenal Industri 1.0 dengan hadirnya perangkat tenun mekanis kesatupada tahun 1784. Kala itu, industri diperkenalkan dengan kemudahan produksi mekanismemakai tenaga air dan uap.
Teknologi Informasi
Selanjutnya, Industri 2.0 ialah era revolusi buatan massal. Sementara, era industri 3.0ialah era pemakaian elektronik dan teknologi informasi untuk otomatisasi produksi.
Dalam era Revolusi Industri 4.0, anda disajikan dengan sophistikasi teknologi dari Internet of Things (IoT), Big Data, Artificial Intelligence, human-machine interface, Cloud, Computer Quantum, robot, 3D printing, Augmented Reality and Virtual Reality (AR/VR) sampai Mixed Reality!
Indonesia juga bergerak cepat dengan gebrakan strategisnya! Pemerintah langsungmenerbitkan Peta Jalan Pembangunan Industri Nasional dengan branding “Making Indonesia 4.0” pada April 2018.
Bahkan pemerintah optimistis andai Indonesia dapat menerapkan urusan ini, makaperkembangan produk dalam negeri bruto (PDB) riil dapat tumbuh 1%-2% masing-masing tahun nantinya.
Kementerian Komunikasi dan Informatika turut mempermaklumkan Indonesia sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020. Kita siap berlomba dengan India yang berambisi jadi kekuatan sains global pada tahun 2020 dan China yangmemberitahukan visi sebagai pusat inovasi Artificial Intelligence pada tahun 2030.
     Transformasi Humas
Benarkah robot dan Artificial Intelligence bakal menggantikan profesi public relations? Opini saya tidak. Kompetensi public relations memerlukan kombinasi menarik antara intuisi, nalar, empati, emosi serta kreativitas yang tidak terbatas (limitless)! Hal ini menjadi keterbatasan mesin Artificial Intelligence guna dilatih.
Walaupun, disrupsi teknologi sudah mengubah teknik kerja, serta proses dunia public relations, di satu sisi urusan ini dapat membuka lapangan kegiatan baru. Dengan catatan, anda jeli dalam menggali celah, tidak takut, mengekor perkembangan dan menguasai teknologi. “Teknologi mesti menjadi budak kita, bukan anda yang menjadi budak teknologi," kata Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika dalam sebuah kesempatan.
Persepsi lama bahwa public relations hanya bermanfaat sebagai media relations,menciptakan klipping, protokoler serta publikasi di konvensional media semata mestilahanda tinggalkan. Sekarang profesi itu dituntut memiliki kemahiran yang lebih kompleks.
Artinya, transformasi public relations dalam era revolusi Industri 4.0 ialah sebuah keniscayaan! Ada sejumlah langkah urgen yang mesti diambil.
     Pertama, kompetensi. Dunia digital menjadi skill sets yang mutlak dimiliki. Public relations Indonesia mesti meng-upgrade dan mempunyai kompetensi teknologi dan non-teknologi mumpuni. Di era industri 4.0, dunia perlu praktisi PR dengan fleksibilitas dan mobilitas yang tinggi, keterampilan digital, analitik, mencatat konten, membina jaringan, tidak jarang kali haus bakal informasi terkini dan mempunyai spesialisasi.
     Kedua, personalisasi konten. No 'One Size Fits All messages' guna konten public relations. Agar impactful, praktisi public relations mesti kreatif dan dapat berkomunikasi secara personal.
Dengan tsunami konten dan overload informasi di dunia ketika ini, Public Relations 4.0mesti lebih selektif menyaksikan siapa target audience-nya, kanal yang digunakan, serta konten yang relevan dengan mereka.
Hal yang sama saat public relations dihadapkan dalam kondisi krisis, manajemen reputasi, dan membina sebuah brand. Dengan kata lain, Public Relations 4.0 mesti dapat menjadi Producer dan Publisher konten.
     Ketiga, kreatif dan pahami global tren. Lihatlah pertumbuhan teknologi dari gejala video 360 CNN, live streaming , drone sampai mixed reality dari Windows. Kita mestimengombinasikan digital teknologi ini guna peran faedah Public Relations di era 4.0.
     Keempat, integritas. Di era disrupsi ini, public relations gampang terbawa arusperdebatan isu dari hoax sampai fake news. Hubungan masyarakat mesti tetap mempunyai tata kelola (Good Governance), akuntabel, transparan dan menjawab tidak saja kebutuhan stakeholders, tapi pun seluruh penduduk negara.
Teknologi Informasi
     Esensinya, membina Trust dan Reputasi melewati branding “Making Indonesia 4.0” jugaperlu agenda setting serta peran strategis Humas 4.0. Dibutuhkan kolaborasi Humas pemerintah, swasta bahkan akademisi guna mensosialisasikan Brand Indonesia!
Hal ini sebab ekspektasi stakeholders pada peran faedah strategis public relations menjadi tiga kali lebih berat dari sebelumnya.
Tantangan ini tidaklah mudah, namun, bukan urusan yang tidak mungkin! Selamat datang era Industri 4.0. Waktunya anda menjadi Humas 4.0. guna

Baca Juga : ( OPINI: Peran Strategis Humas di Era Industri 4.0 )

0 komentar:

Posting Komentar