Senin, 08 April 2019

Teknologi Informasi | Teknologi Informasi dalam Keperawatan Ppt

Teknologi Informasi | Revolusi Industri 4.0 
dalam Dunia Kesehatan

Teknologi Informasi - Perkembangan teknologi tidak bisa dimungkiri telah mengolah kehidupan umat insan dari tiap zaman. Setiap hari kehidupan anda bersinggungan dengan teknologi, baik tersebut telepon genggam, media sosial atau bahkanperlengkapan rumah tangga. Dalam pertumbuhan teknologi ada istilah industri 1.0, industri 2.0, industri 3.0, industri 4.0. Industri 1.0dibuka dengan penemuan mesin uap oleh James Watt (1763) dan mengawali revolusi industri di semua dunia.
Industri 2.0 dibuka dengan penemuan sumber energi baru laksana listrik oleh Thomas Alfa Edison (1882), gas, dan minyak bumi. Metode berkomunikasi berubah dengan ditemukannya telegram dan telepon.
Sarana transportasi pun berubah dengan ditemukannya mobil dan pesawat pada mula abad ke-20. Industri 3.0 ditandai dengan berkembangnya sektor elektronik, teknologi informasi (transistor, mikroprosesor, telepon genggam, dan komputer) serta proses automatisasi di mana robot dan mesin mulai menggantikan peran manusia.
     Terakhir ialah industri 4.0. Perkembangan internet telah mengawali revolusi industri 4.0. Dengan internet, sebuah proses buatan dapatditata secara virtual dan saling terkoneksi dengan adanya sistem komputasi awan (Cloud), analisis data, dan IoT (internet of things).
Industri 4.0 memperkenalkan istilah Smart Factory, yakni sistem memonitor proses buatan suatu pabrik dengan menciptakan keputusan desentralisasi, bekerja secara otomatis. berkomunikasi dan bersangkutan dengan insan secara langsung melewati jaringan nirkabel.
Dari tiap masa, ilmu kesehatan selalu merasakan perkembangan secara revolusioner. Dimulai dari ditemukannya stetoskop (1816), rontgen (1895), dan magnetic resonance imaging (1978), ketika ini kecerdasan produksi yang memimpin pertumbuhan selanjutnya. Dalam industri kesehatan,sejumlah perusahaan teknologi sudah mengembangkan produk mereka denganmemakai kecerdasan produksi untuk memproses data-data yang dikoleksi dari pasien.
Perusahaan besar laksana IBM (International Business Machine) semenjak 2015 telah mengenalkan Watson Health dengan destinasi yang jelas, yaitumenggali jalan terbaik untuk membawa kecerdasan produksi dan teknologimenolong pekerja di sektor kesehatan menanggulangi masalah di bidang kesehatan.
Pendekatan yang dilaksanakan oleh Watson dengan adanya pertumbuhan pengetahuan di bidang kedokteran masing-masing tahun melalui sekian banyak  penelitian tidak terdapat dokter yang dapat mengekor semuapertumbuhan tersebut di mana masing-masing pasien dapat menyerahkan data kesehatan individu yang paling berharga. Watson mengoleksi semua data yang terdapat dan mengejar korelasi yang relevan dalam urusan yang tidak dapat dilaksanakan seorang dokter.
Beberapa lokasi yang dipercayai IBM telah menyerahkan manfaat ialah pengaturan kadar gula darah yang lebih baik pada penderita diabetes melitus (kencing manis), pemungutan keputusan penyembuhan yang cocok pada pasien kanker, penemuan penyembuhan yang baru dan urgen pada penyakit kronis laksana ALS (amyotrophic lateral sclerosis), dan parkinson.
Secara spesifik Watson konsentrasi pada bidang kanker (Watson for Oncology) dengan destinasi memaksimalkan kecerdasan produksi dari data yang didapat. Sampai akhir Juni 2018, telah ada 230 lokasi tinggal sakit dan organisasi kesehatan yang merangkum 84.000 pasienberkolaborasi dengan Watson.
Pro dan kontra terjadi dalam pemakaian Watson. Dalam beberapa tulisan yang dimuat dalam jurnal kedokteran laksana The Oncologist, Neurology, Acta Neuropathologica, Annals of Oncology semua peneliti mengoleksi data dari pasien dan menggali hubungan baru dengan data dari sekian banyak  literatur. Hasil analisis yang dilaksanakan Watson akan menyerahkan rekomendasi yang menjadi bahan pertimbangan pilihan pengobatan.
Di luar urusan tersebut terdapat sejumlah pihak yang kontra dan kecewa terhadap pemakaian Watson seperti lokasi tinggal sakit edukasi di Giessen dan Marburg yang sedang di Jerman. Berdasarkan keterangan dari mereka Watson ialah eksperimen yang gagal. Jika dokter memasukkan data pasien yang menderita nyeri dada, Watson tidak menyerahkan diagnosis angina pectoris (serangan jantung) atau diseksi aorta (robeknya aorta), hasil yang keluar ialah penyakit infeksi yang langka.
Berdasarkan keterangan dari IBM, urusan ini terjadi sebab adanya identifikasi bahasa yang tidak sesuai. Semua data pasien tergolong tulisan dari dokter, hasil laboratorium dipindai dan data bakal dianalisis. Ungkapan kalimat yang biasa dipakai oleh dokter laksana “tidak bisa disingkirkan” adalahhal yang rumit guna diinterpretasi oleh Watson.
Walaupun begitu dengan meningkatnya publikasi ilmiah dan jumlah lokasi tinggal sakit yang memakai Watson terus bertambah, IBM percaya bahwa Watson berada pada jalur yang benar.
Dokter Kehilangan Pekerjaan?
Bagaimana dengan perusahaan teknologi lainnya laksana Google, Apple, Amazon, dan perusahaan rintisan lainnya? Sejak 2015, Google telahmenciptakan divisi anak usaha dengan nama Verily (sebelumnya mempunyai nama Google Life Sciences).

0 komentar:

Posting Komentar