Senin, 01 April 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | MPR GUNAKAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK MEMBANGUN CINTA PERSATUAN

TEKNOLOGI INFORMASI | MPR GUNAKAN TEKNOLOGI
 INFORMASI UNTUK MEMBANGUN CINTA PERSATUAN


TEKNOLOGI INFORMASI - Sekretaris Jenderal (Sesjen) MPR RI Ma'ruf Cahyono mengingatkan, pertumbuhan Teknologi Informasi (TI) adalahmodalitas dan potensi bangsa andai dimanfaatkan sebagai perangkat komunikasi sesama anak bangsa, dan alat guna merekatkan silaturahim.

Ma'ruf berharap, pemakaian Teknologi Informasi, laksana facebook, WhatsApp dan lainnyamestilah dapat meningkatkan produktifitas sumberdaya insan Indonesia, sampai-sampai pengaruh negatif pertumbuhan Teknologi Informasi dapat diminimalisir.

Ma'ruf Cahyono menyampai urusan tersebut di depan selama 400 peserta sosialisasi Empat Pilar MPR di Pendopo Rumah Dinas Bupati Kabupaten Toba Somosir (Tobasa) di Balige, Sumatera Utara, Selasa (19/2/2019).

Para peserta sosialisasi ini terdiri dari bagian perangkat wilayah seperti forkompimda, camat, kepala sekolah, guru, figur agama, figur adat, figur pemuda, bagian ormas orsospol, LSM, dan lainnya mengisi bangunan bangunan pendopo yang tanpa ditutupi oleh dinding.

Juga muncul dan berperan sebagai responden anggota MPR dari Kelompok DPD RI Parlindungan Purba, dan Edison Manurung selaku staf eksklusif Ketua DPD RI. Juga muncul dan memberi sambutan Bupati Tobasa Darwin Siagian beserta bagian Forkompimda Kabupaten Tobasa, dan tamu undangan lainnya.

Lebih lanjut Ma'ruf menjelaskan, Teknologi Informasi mesti dipakai untuk hal-hal yang produktif. Teknologi Informasi layaknya dipakai untuk membina cita persatuan bangsa dan kesatuan negara dalam wadah NKRI. Untuk tersebut kita mesti bersama-sama membina bangsa sekaligus membina negara.
Selanjutnya diungkapkan bahwa untuk membina bangsa dan negara dibutuhkan aktualisasi nilai nilai luhur dan jatidiri bangsa yang dinamakan Pancasila. Persatuan Indonesia sebagai komitmen kebangsaan ialah salah satu dari karakter bangsa Indonesia yang dijiwai oleh karakterisitik bangsa lainnya yaitu sebagai bangsa yang religius, humanis, demokratis dan adil.

Ma'ruf memberikan contoh nilai milai luhur bangsa yang tidak jarang diabaikan ialah nilai demokratis. Penyelesaian masalah dan menggali solusi dengan musyawarah mufakat bulat jarang dilakukan, pada kesudahannya yang terjadi ialah prinsip beberapa besar yang menekan kelompok minoritas.

Dengan demikian cita kemanusian dan keadilan tidak gampang diwujudkan. Keputusan dankepandaian yang dipungut yang tidak mengakomodir sekian banyak  kepentingan masyarakat itulah yang menimbulkan sekian banyak  ketidak puasan dan konflik.

Ini yang tidak baik tentunya guna memupuk dan memantapkan persatuan bangsa dan kesatuan negara. Saya pikir nilai nilai demokrasi khas Indonesia berikut yang mesti terus dihidupkan sampai-sampai persatuan Indonesia semakin kokoh sebagai kriteria mewujudkan cita cita negara sebagaimana termaktub dalam pendahuluan Undang Undang Dasar.

Jadi, menurut keterangan dari Ma'ruf, bila musyawarah menjangkau mufakatdilaksanakan atas dasar nilai-nilai transendental hikmat kebijaksanaan, maka apapun keputusan yang dipungut akan dapat diterima oleh seluruh pihak dan seluruh bertanggung jawab melaksanakannya.

Kita semua, menurut keterangan dari Ma'ruf, fobia Indonesia kehilangan sebagai bangsa yang religius, bangsa yang humanis, bersatu, demokratis dan yang berkeadilan. Kata Ma'ruf, Itulah visi kehidupan berbangsa anda yang paling bagus sebagai karya semua pendiri bangsa.

Cita-cita semua pendiri bangsa ialah negara Indonesia menjadi bangsa yang religius, bangsa yang humanis, bersatu, demokratis, adil sejahtera, mandiri, maju dan bersih. "Ituialah cita-cita paling mulia," katanya.
Untuk membuat satu situasi bangsa yang cocok dengan visi semua pendiri bangsa, manurut Ma'ruf, pasti tidak mudah, namun bukan sesuatu yang berat. Bagi itu, katanya,dapat dimulai dari manapun, tergolong dari diri anda sendiri. Dari entitas yangsangat kecil contohnya , contohnya mulai dari RT, RW, kabupaten-kota, hingga tingkat negara. Cita negara bakal terwujud andai nilai mendasar negara tersebut diaktualisasikan dalam kehidupan sehari hari.

Sementara itu, Bupati Tobasa Darwin Siagiaan dalam sambutannya, menyambut baik pekerjaan Sosialisasi yang diadakan oleh MPR di Tobasa. Berdasarkan keterangan dari Darwin, iniguna kedua kali sosialisasi Empat Pilar MPR diadakan di Tobasa setelah pekerjaan yang sama diadakan pada 2016 yang dihadiri oleh Wakil Ketua MPR Oesman Sapta.

Sebenarnya, jelas Darwin, guna Kabupaten Tobasa, khususnya wilayah sekitar telaga Toba, masalah Empat Pilar tidak terdapat persoalan. Karena Empat Pilar ini terdapat hubungannya dengan adat.

"Maka, di sini segala masalah dapat ditamatkan dengan musyawarah di atas makanan," kata bupati berusia 67 tahun ini.

Darwin pun menggambarkan bagaimana di wilayah penghasil pertanian ini mengasuh keberagam.

"Di sini bila ada pekerjaan gereja yang melayani umat muslim, begitu bila umat muslim punya hajatan yang melayani umat kristiani," ujar Darwin yang sudah tiga tahun menjabat Bupati Tobasa.

Jadi, menurut keterangan dari Darwin, guna Tobasa masalah Empat Pilar telah final, tidak butuh diperdebatkan lagi. Hanya saja, lanjut Darwin, memang butuh ada penyegaran dan berikut pentingnya sosialisasi Empat Pilar ini. Selanjutnya, dia meminta Dinas Pendidikan Tobasa untuk mengoleksi materi sosialisasi untuk lantas disebarluaskanuntuk guru-guru yang lain.

0 komentar:

Posting Komentar