Senin, 01 April 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | Didesain Menggabungkan Kecanggihan Teknologi Informasi dan Psikologi

TEKNOLOGI INFORMASI | Didesain Menggabungkan Kecanggihan 
Teknologi Informasi dan Psikologi


TEKNOLOGI INFORMASI -  Penyebaran informasi menyesatkan atau hoaks di masyarakat mulai tak terbendung. Ada kecenderungan penyebaran hoaks sudah menuju pribadi seseorang, bahkan telah tidak punya ukuran moral.

Hoaks ini mempunyai pola yang terstruktur, diulang-ulang, dan mengaduk-aduk emosi dankeyakinan seseorang. Sebab, informasi menyesatkan dengan destinasi tertentu tersebut, memang didesain dengan menggabungkan kecanggihan teknologi informasi dengan psikologi.
Hal tersebut dikatakan Anggota Komisi II DPR RI Budiman Sudjatmiko dalam diskusi Media & Industri 4.0 dengan tema “Memanfaatkan Digital Sebagai Media Berkarya dan Menangkal Hoaks” yang digagas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Auditorium KHA Dahlan PP Muhammadiyah, Kamis (28/3).

Berdasarkan keterangan dari Budiman, Cambridge Analitycal sudah memetakan tipe-tipe seseorang melewati data-data yang diperolehnya. Tidak melulu dari facebook namun pun dari akun twitter.
Dengan pemetaan tersebut, menurut keterangan dari Budiman, maka pemakaian hoaks bisa disesuaikan sampai-sampai dapat menjangkau sasaran.

“Kalau tidak dipedulikan dapat laksana di Suriah. Berhasil dengan mudahnya mengatas namakan kepentingan rakyat. Dipicu lagi, mendekati yang tidak mempunyai kemampuan," katanya.

Sementara, Cyber Bareskrim Polri Hans Itta membetulkan pendapat Budiman. Suatu hoaks atau informasi itu dirasakan kebenaran khususnya pengelolaan opini tersebut yang terjadi ketika ini. Jika orang berkata 4.0 ketika ini untuk Hans tersebut sudah ketinggalan dan Bareskrim lebih maju dengan mengawali 4.1.1.
“Jadi tidak saja informasinya yang sepi namun bagaimana informasi tersebut dipergunakan guna mengelola opini, siapa yang mengelola opini, siapa yang menguasai opini, dialah yang menguasai medsos,” ujar Hans.

Menurutnya, masing-masing orang sekarang mempunyai lebih dari satu grup whatsapp. Sesuatu informasi kedustaan yang diulang-ulang terus menerus maka bakal menjadi kebenaran. Jika telah menjadi kebenaran maka informasi tersebut disebar di ruang public. “Ini yang terjadi kini ini,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPP IMM Ary Sudanto menyaksikan tidak semua peradaban teknologi informasi dominan  buruk terhadap pemakainya, tapi pun bermanfaat untuk masyarakat. Menurutnya, peradaban teknologi dapat dimanfaatkan menjadi bisnis yang menyebabkan keuntungan dan membuka lapangan kerja baru.
“Jadi ibaratnya pisau bermata dua, dia akan menyerahkan hasil yang baik atau sebaliknya. Yang baik tentunya laksana e-commerce yang digunaan guna bisnis laksana ojek online. Sebaliknya urusan buruk dinamakan hoaks dan merusak tatanan masyarakat,”

0 komentar:

Posting Komentar